MANUSKRIPSA OSTAFOLOGI MATI KIRI 02

Posted in Uncategorized on Agustus 17, 2008 by ostafologi

MANUSKRIPSA DARI PENCARIAN ALFABET(A) GAMMA
Pada suatu masa ketika berusaha terlibat untuk menjadi atau tidak menjadi (2 B or not 2 B) demonstran, aktivis mahasiswa ataupun aktivis pers mahasiswa di era Orde Baru (Orba). Ada semacam keterpesonaan untuk mendokumentasikan usaha tersebut dalam bentuk manuskrip atau lembaran-lembaran tulisan. Ada berbagai jenis manuskrip yang dihasilkan seperti puisi, karikatur, cerpen, essai, kolom, opini dan juga surat cinta untuk penghuni Sorga.

Saat itu menulis puisi, tidaklah mesti menjadi penyair dan pujangga. Menulis essai, meski tidak untuk menjadi seorang essais. Menulis cerpen, walau bukan untuk harus mencapai penggelaran sebagai cerpenis. Bergiat menulis ‘kolom-kolom langit’, walau tak mesti menjadi kolomnis. Semua aktivitas literatif dilakukan untuk ‘pencarian kesejatian alfabet’ dalam memaknai kata ‘idealisme’, juga demi menemukan sisi ‘alfabet(a) gamma’ (baca: alfa beta gamma) suatu tema kecil idealektika bermahasiswa.

Idealektika adalah penyampaian imaji idealisme dalam trilogi pergerakan yakni ucapan, tindakan dan konsistensi Idealisme. Semua itu adalah bagian untuk menyampaikan beberapa buah pembangkangan, bunga pemberontakan dan tangkai penolakan terhadap kebenaran tunggal Orba. Idealisme dalam versi huruf Hijjaiyah/huruf Arab merupakan “Alif” dan “Ya”. Huruf ‘Alif’ sama dengan simbol ‘Alfa’ atau ‘Yang Pertama’. Huruf ‘Ya’ persis seperti simbol ‘Omega’ atau ‘Yang Terakhir’.

Konsistensi pada Aktivisme pro-Idealisme adalah aktivisme tingkat ‘advance’ dari ‘Alfa’ hingga ‘Omega’. ‘Beta’ dan ‘gamma’, mencitrakan perjalanan riak Idealisme pada ‘kesulitan ekstrim’ dan ‘daya-tahan super’ untuk melakoni Idealisme semasa mahasiswa (on-campuss) maupun konsistensi kontinuitasnya saat berada dalam perjuangan di masyarakat luar kampus (off-campuss).

BIDADARI DI TOKO BUKU, PERPUSTAKAAN, KANTOR POS DAN DINAS INTELJEN
Di antara penulisan manuskripsi terdapat pula ‘Surat Cinta Untuk Penghuni Sorga’. Sebenarnya tak ada data yang pernah terbuktikan dan terkonfirmasikan lewat ‘realita pengalaman’ tentang keberadaan bidadari kecuali dalam toko buku, perpustakaan, kantor pos dan dinas inteljen. Di masa Orba, ada suatu keyakinan bahwa penghuni Sorga semuanya pasti bidadari, yang keberadaannya disembunyikan oleh dinas inteljen. Keberadaan bidadari disangkal oleh agen pemerintah Indonesia, sebagaimana penyangkalan terhadap keberadaan alien oleh pemerintah Amerika Serikat.

Sudah ada kesepakatan dari seluruh lelaki di dunia bahwa bidadari pastilah perempuan. Itulah sebabnya sebagai pengungkapan diri sebagai lelaki yang masih sedikit normal, ada keseriusan untuk segera membuat surat cinta pada bidadari tersebut. Surat cinta untuk bidadari yang harus dikirim melalui kantor pos, harus hati-hati dilakukan, sebab para pegawai kantor pos, kebanyakan juga merupakan agen pemerintah yang yang disumpah untuk mengingkari keberadaan bidadari. Alamat bidadari tak pernah diberi kode pos oleh otoritas kantor pos, bahkan pihak Departemen Dalam Negeri tidak menginjinkan para bidadari memiliki alamat tetap.

Sayang sekali tak ada informasi dari Al-Qur’an, Hadits, cerita Israiliyat/hikayat Judaisme, fatwa ulama, khotbah Jumat dan ceramah pengajian, tentang satu pun nama bidadari. Mitologi Yunani, fairy tale, novel fiksi, sinetron dan dongeng pengantar bobo, memberikan sejumlah nama-nama bidadari, namun tak layak dipercaya kebenarannya. Itulah sebabnya surat cinta dikirim kepada ‘Bidadari Anonim’ dikirim acak ke toko buku, perpustakaan, kantor pos dan dinas inteljen. Siapapun bidadari yang membalasnya, itu sudah cukup untuk menjelaskan romantisme kerinduan dalam hari-hari demonstrasi dan waktu-waktu pergulatan diskusi.

‘KOTA PARA MALAIKAT’ DAN ‘HOME SWEET HOME FOR SWEET FAIRY’
Dalam film “City of Angel” diceritakan tentang para malaikat yang sangat menyukai kunjungan rutin keperpustakaan. New York yang disebut sebagai “kota para malaikat”, ternyata memiliki sarana tempat suci, yang tak berupa rumah ibadah seperti gereja dan sinagog (tempat ibadah kaum Yahudi) melainkan perpustakaan. Jika dihubungkan dengan hadits yang menyebutkan tentang setan yang takut menggoda orang yang berilmu yang sedang tidur, maka film ini memiliki satu ‘tafsir pembenaran’ yakni mereka yang berilmu dijaga dan disenangi para malaikat. Itulah alasan mengapa setan harus takut pada orang berilmu yang sedang tidur, sebab ia selalu dijaga para malaikat.

Orang yang berilmu dan para malaikat memiliki hobi yang serupa yakni mengunjungi “rumah suci” yang bernama perpustakaan atau sama-sama rajin membaca.

Sebuah kota yang memiliki perpustakaan, menjadi menjadi kota yang rutin dikunjungi para malaikat. Kota yang ditinggalkan para malaikat akan menjadi kota setan dan kota horror. Nasib sebuah kota perlu dipertahankan keberadabannya dengan keberadaan sebuah perpustakaan. Tanpa perpustakan, kota akan dikuasai oleh ‘para setan patah pensil’ yang berupa jin kafir dan setan bertubuh manusia. Kota Bagdad, pernah juga menjadi ‘kota para malaikat’ disebabkan adanya banyak perpustakaan yang dimiliki oleh pihak kerajaan dan para individu biblioholik.

Bagdad menjadi kota setan dan inferno (kota neraka), ketika perpustakaan dan buku-buku di bumi hanguskan bersama lelehan tinta dan ceceran darah para penghuni kota. Bagdad mengalami degradsi moral sebagai kota maksiat dalam kekuasaan Dinasti Umayyah, saat itu dinasti tersebut berada dalam puncak peradaban yang memuja materialisme dan ‘cinta duniawi’. Perpustakaan sudah menjadi ajang pesolek kaum kaya dan bukan menambah keyakinan terhadap Islam. Perpustakaan telah menjadi ajang pameran pemujaan kekayaan duniawi para aristokrat dan kapitalis dinasti Umayyah. Fungsi perpustakaan untuk memperkuat peradaban Islam yang bermoral tinggi, tak lagi menjadi tujuan dasar dari banyaknya koleksi buku-buku di kota maksiat ‘city of satanic Bagdad’.

Penghancuran kota Bagdad, dilakukan para invasionis buta huruf dari pasukan dinasti Jengkhis Khan. Penghancuran ini dimulai dengan menghancurkan apa yang disenangi para malaikat yakni menghancurkan perpustakaan, melarung buku-buku ke sungai dan menjadikan buku-buku sebagai bahan pemicu api untuk menghanguskan kota. Kota yang telah disukai para malaikat, merupakan juga ‘home sweet home for sweet fairy’ (rumah yang manis untuk peri yang manis). Jika kota telah ditinggalkan para malaikat, maka peri manis juga tak sudi datang. Saat itu pula para organisatoris dan politikus setan akan mengambil alih manajemen kota dan seluruh isinya.

Entah bagaimana nasib kematian para penghuni kota Bagdad yang terbantai oleh pasukan moghul (Mongolia)? Apakah di keabadian kehidupan kedua mereka sempat dibangunkan oleh para peri/bidadari yang manis atau malah dijemput seringai horor para setan dari dimensi kegelapan? Tak ada validasi cerita tentang nasib orang-orang yang terbantai bersama robekan buku-buku, sebab setan tak akan bersusah payah membukukan penderitaan tersebut. Jika para setan memiliki perpustakaan untuk kalangan sendiri, maka malaikat tak sudi datang membaca sadisme dan masokisme yang ditulis dengan tinta darah bernanah di atas lembaran-lembaran kertas dari kulit-kulit manusia yang dikeringkan.

Kota New York, Los Angelos (Kota ‘Hilangnya Para Malaikat’/’lost angels’), Washington DC atau kota mana saja yang berisi banyak kaum kafir akan selamat dari kutukan, bila mereka tetap memiliki perpustakaan. Doa generik para malaikat pada sebuah kota, akan terus bersambung bila manusia tak menghancurkan lebih dulu suatu perpustakaan. Kota akan tetap selamat bila manusia yang cerdas dan yang tercerahkan tetap berusaha menjaga perpustakan sebagi ‘home sweet home’ bagi biblioholik.

SURAT BALASAN CINTA DARI PENGHUNI SURGA TERSORTIR OLEH DINAS INTELJEN
Setelah beratus-ratus kali mengirim surat kepada penghuni Sorga. Tak ada satu kata balasan yang terkirimkan ulang. Tak pernah ada kantor pos di kota Makassar yang mengaku pernah menerima surat balasan dari Sorga. Barangkali pihak DPRD pernah menerima salah satu balasan surat itu? Setelah beberapa kali demonstrasi dan memasuki ruang administrasi DPRD Tingkat I dan II, para ‘wakil rakyat-rakyatan’ juga tak pernah menerima balasan surat itu.

Tak adakah bidadari yang percaya pada wakil rakyat, hingga pada mereka pun bidadari tak sudi menitipkan sebuah surat? Mereka memang hanya menerima aspirasi mahasiswa, yang kemudian hanya disimpan di laci meja atau di buang ke pembakaran sampah. Pastilah setelah ratusan surat terkirim ke penghuni Sorga, tentu akhirnya ada satu carik balasan. Jika memang telah ada seorang bidadari yang pernah membalas surat itu, kemanakah ia terkirim?

Hingga pada suatu tanggal, bulan dan tahun yang tak lagi tercatat pada imajinasi, muncullah sebuah amplop yang merupakan balasan surat dari seorang bidadari. Di wajah depan amplop tak ada cap stempel dari kantor pos, cap stempel terlihat berasal dari kantor militer dan kantor dinas inteljen. Mengapa sampai surat itu terkirim melalui kantor militer dan dinas inteljen? Ada urusan apa sehingga aparat represif itu mengambil alih fungsi kantor pos?

Kepentingan apa yang diemban oleh aparat itu, sehingga surat dari bidadari harus diperiksa isinya? Padahal surat itu sama sekali tak menyimpan suatu sikap dan pernyataan yang akan mengganggu stabilitas negara. Tak ada rencana makar, kudeta, provokasi dan hal-hal yang dianggap berbahaya bagi keamanan dalam kata-kata manis surat bidadari. Surat itu sama sekali tak berindikasi subversive dan tak disusupi bom. Mengapa balasan dari surat cinta, harus ditanggapi dengan kecurigaan ‘satu mata kanan’ intelejen Dajjal?

TERTULIS PESAN DARI PENA TANPA TINTA DAN SKRIP TANPA HURUF
Tak ada satupun tanda baca yang terdapat di kertas. Tak ada huruf kecil dan tak ada huruf besar. Tak ada ‘alfa beta gamma’ atau ‘abc’. Tak ada ejaan yang disempurnakan dan tak ada urusan dengan tata bahasa, yang bermasalah dengan isi surat. Tak sedikit pun isi bertuliskan prosa liris, sajak melakonlis dan puisi romantis. Tak ada ilustrasi, bahkan tak ada apapun di surat itu. Surat itu hanya secarik lembaran kertas putih polos. Surat dari bidadari anonim itu, dikirim dari Sorga yang tak beralamat dan belum memiliki kode pos. Di atas kertas itu, hanya berisi awan putih dan sedikit kabut dari suatu sisi kiri suatu alur pegunungan surgawi.

Surat itu terkirim dari waktu yang tak berdetik dan ruang yang tak bertempat. Pesannya tertulis dari pena yang tak bertinta, tapi apakah secarik kertas putih yang tanpa perwakilan satupun alfabet masih bisa disebut sebagai suatu surat? Meski kertas itu tak bertuliskan apa saja untuk bisa dimengerti secara instan, namun adakalanya Ostaf harus sesekali mendaki gunung untuk melakukan pembacaan kertas putih. Pada awan, kabut putih dan selembaran pelangi, ada banyak tulisan yang bisa dibaca hingga akhirnya mata lelah dan pikiran tertidur tanpa kidung ‘nina-nina bobo’.

Salah satu cara membaca surat kosong dari bidadari yakni waktu tertidur antara batu, pohon, lumut, selimut kabut dan udara dingin. Hanya untuk surat ini, disarankan membaca sambil tiduran hingga tertidur pulas. Pas untuk selembar yang boleh dibaca dalam tidur sambil memeluk fantasi ‘bantal guling pohon’ dan ‘bantal batu’. Bila surat dari bidadari dibaca hingga dua lembar lebih, maka seorang pendaki tak akan bisa lagi bangun dari tidur untuk selamanya. Bila ia seorang pendaki yang banyak berbuat baik di horizon kaki langit, maka empat sosok bidadari akan bersuka-hati membuka kelopak matanya dengan masing-masing satu ciuman hangat berasap. Bila ia pendaki yang banyak berinvestasi jahat di horizon kaki gunung, seluruh setan akan berpesta untuk mengeroyok rohnya yang kotor.

BIDADARI ANONIM, PERAWAN SUCI DAN PLATONISME CINTA TAK BERPATUNG
Filsuf Plato, mendasarkan suatu hubungan cinta yang sulit dimengerti via cerita bersudut manapun juga. Dari dirinya terbentuklah sebuah citra cinta yang melampaui realitas romantis. Filsuf ini dinisbatkan sebagai cinta platonik, sebagai cinta yang tak menciptakan dosa syahwat. Cinta sang filsuf yang tak mempersekutukan kedekatan secara fisik sama sekali.

Ostafonik dan Platonik seperti cinta seorang pendaki pada gunung. Pendaki tak perlu memiliki apapun yang berada di gunung sebagai tanda serah terima persyaratan cinta antara pihak pertama dan kedua. Betapa pun indahnya pegunungan saat kabut turun perlahan, namun tak pernah bisa segenggam kabut puncak gunung di bawa serta turun menuju kaki gunung. Begitupun cinta, harus seperti kabut puncak gunung yang harus berada di tempatnya yang alami, tak terusik oleh tangan–tangan pencintanya.

Surat cinta kepada bidadari bukanlah romantisme perwakilan cinta platonik dan tak ada hubungan dengan filsafat Platonisme/Neo-Platonisme. Tak ada dokumentasi filsafat yang pernah menyebutkan bahwa Plato pernah menyebutkan tentang adanya bidadari. Di masa kefilsafatannya, memang ada makhluk fantasi yang disebut sebagai dewi. Dewi digambarkan memiliki kecantikan luar biasa dan memiliki kekuatan supra-natural melebihi manusia.

Kecantikan para dewi, bisa dilihat dari warisan patung-patung Yunani yang berbentuk patung semi-porno yang mengumbar ornamen dan relief kecantikan tubuh berseni vulgar. Plato merupakan ‘filsuf mati rasa’ terhadap fantasi kecantikan dewi-dewi dan tak percaya keberadaan realistik dari makluk rekaan para seniman dan para pematung. Kefilsafatannya tak pernah menyinggung secara serius pada dewi-dewi cantik penggoncang iman para lelaki sundal dan filsuf buaya darat.

Bidadari adalah suatu makhluk yang berada di luar batas imajinasi manusia (beyond imagination boundary) dan tak sampai tersentuh pada pikiran terdalam suatu filsafat manapun juga. Memang di jaman Plato sudah dikenal makhluk cantik yang disebut sebagai dewi, tapi dewi sangat berbeda dengan bidadari. Dewi-dewi mewakili nafsu-nafsu badaniah dalam fantasi seksual atlet olympiade purba maupun dewa Yunani, yang disebarkan oleh kaum sofis ‘oral-sexuality’ dan kaum filsuf ‘de-morale sexuality’.

Memang ada dewi-dewi yang dilukiskan sebagai perawan yang suci, tapi hanya tersisa beberapa sosok saja kurang dari lima jari kiri. Salah seorang dari perawan suci ini kemudian di’copy paste’ menjadi sosok ‘Mary The Virgin’ atau ‘Perawan suci Maria’ dalam bentuk patung atau gambar. Ada juga yang menyatakan patung ‘Mary The Virgin’, masih merupakan sosok dewi Venus saat masih belum terlibat ‘dugem’ dan ‘clubbing’ di gunung Olympus, sehingga masih suci dari jamahan liar dewa-dewa.

TRAGEDI YUNANI ‘MINUS MORALITAS SEKSUAL’ DEWI VENUS
Beberapa sosok dewi yang tetap suci ini disebabkan karena mereka tak tercatat keterlibatannya dalam acara ‘Goddess Night’ sehingga tak di-‘booking’ oleh ‘om-om dewa binal’ untuk pergaulan bebas dewa-dewi di gunung Olympus. Acara gaul bebas para dewa-dewi Olympus yang tak bermoral ini, tak dimasukkan dalam salah satu Mitologi Yunani dan tak dianggap sebagai bagian ‘Tragedi Yunani’. Itu pula sebabnya, dalam peradaban Barat yang amoral, kehilangan kesucian pra-nikah sama sekali tak dianggap tragedi kemanusiaan. Gadis-gadis Barat malah memiliki ritual ‘senior high girls’ yang disebut ‘de-hymen’ yakni menjebol keperawanan di usia ‘sweet seventeen’ dan setelah itu ‘easy sex easy abortion’. Abortus akibat seks bebas atau hubungan seks pra nikah, lalu di beri keluasaan sikap permisif oleh aturan negara dan sejumlah aliran Kristen sempalan.

Adanya anomali terhadap beberapa sosok dewi yang menjaga kesuciannya dari efek gaul bebas ini, menggambarkan bahwa hanya ada sedikit kesadaran untuk menempatkan perempuan pada martabat keluhuran dan melulu dianggap sebagai budak seks. Para filsuf dan pemikir Yunani umumnya masih menempatkan perempuan sebagai strata terbawah disubordinasi lelaki. Peradaban Yunani yang tinggi, sangat merendahkan martabat para perempuan. Pemujaan pada perempuan terbatas pada vulgarisasi keindahan arsitektur tubuh seperti yang terlihat pada patung dewi Venus.

Peradaban Barat –yang berakar serabut dari pohon intelektual filsafat Yunani–, sampai sekarang masih menempatkan perempuan sebagai wujud dewi Neo-Venus di panggung cat walk, film Hollywood, majalah porno Play Boy/Pent House dan situs-situs porno yang dilegalkan oleh negara atas nama kapitalisme kebebasan ekspresi seni maupun moghulisme kebebasan pers. Sosok dewi Venus dan Neo-Venus, sudah dipenuhi jejalan noda-noda tapak sepuluh jari ribuan tangan haram laki-laki jadah.

Berbeda halnya dengan semua bidadari, yang sama sekali belum tersentuh oleh seorang pun manusia, malaikat, jin, demon, iblis Lucifer 666, Dajjal dan alien. Bidadari yang tak tersentuh kulitnya, pastilah tetap bebas dari jejak sepuluh sidik jari lelaki mana saja atau makhluk apapun memiliki gelantungan ornamen biologis yang berkelamin laki-laki. Bidadari bahkan belum pernah masuk dalam impian lelaki manapun dalam tajuk mimpi basah. Dalam mimpi pun, bidadari tak akan pernah ternodai oleh masa-masa puber pertama dan kedua.

ostafologimatikiri 1

Posted in Uncategorized on Mei 2, 2008 by ostafologi

MANUSKRIPSA OSTAFOLOGI MATI KIRI 01

Oleh: Ostaf Al Mustafa

MANUSKRIP TANPA KATA PENGANTAR

Pada bukuholik atau biblioholik, tidak lagi membaca buku selalu dimulai dari ‘Kata Pengantar’, ‘Avant Provos’,‘Pendahuluan’, ‘Prolog’, ‘Mukaddimah’ atau ‘Pembukaan’. Mengapa pembacaan sebuah buku harus selalu di buka dari halaman ‘i’, ‘1’ atau ‘I’? Aturan dari mana sebuah buku harus selalu dibaca dari halaman depan? Mengapa pintu kecerdasan selalu harus dibuka melalui ‘jendela muka’ dan ‘pintu depan’? Sering disebutkan tentang buku sebagai ‘jendela ilmu pengetahuan’, tapi tak ada ketentuan untuk membuka jendela dunia harus dimulai dari ‘Kata Pengantar’ sebagai jendela terdepan suatu permakluman pengetahuan.

Dalam istilah Islam, orang yang tercerdaskan di sebut sebagai ‘Ulil Al-Bab’, secara harfiah berarti ‘Pembuka Pintu’ atau ‘Penghulu Pintu’. Istilah keintelektualan lainnya yang dikemukakan Al-Gazali berupa Dzawi Al-bab (Ilmuwan), disebutkan sebagai intelektual yang berada di jalan yang benar. Dalam ‘Ulil Al-Bab’ terdapat ‘kibar ahlul ilmi’ (pakar keilmuan yang mumpuni), ‘ahlul ilmi’ (cendekiawan secara umum) dan ‘tholabul ilmi’ (penuntut ilmu/kalangan terpelajar).

Jalan pencerdasan dalam Islam, tak pernah memerintahkan sebuah pintu (Al-Bab) harus dibuka dari ‘Pintu Depan’ atau “Bab Pertama’. Ini bisa berarti bahwa, jika ingin masuk ruang pencerdasan secara benar, maka bisa dimulai dari ‘Bab atau Pintu mana saja’. Pencerdasan mungkin juga bisa dimulai dari ‘Pintu Kamar Belakang’, disanalah tempat segala hajat terbuang dalam bentuk air kecil dan air besar.

MEDITASI CARTESIAN “KATA PENGANTAR” YANG BURUK DALAM SAINTISME ERA MODERN

Pekerjaan pembuktian kecerdasan sang ulil al bab, secara parsial dan fragmentatif pernah disebut sebagai ‘meditasi Cartesian’. Pada meditasi ini, kesadaran atau sikap berpikir sangat diutamakan sebagai proritas tertinggi. Descartes yang juga dikenal sebagai peletak patok dasar ilmu-ilmu moderen, mengemukakan hakekat manusia sebagai ‘cogito ergo sum’ (aku berpikir maka aku ada atau aku berkesadaran maka aku ada). Keberadaan manusia terbatas pada adanya cogitation (pemikiran), sehingga manusia hanyalah ditentukan oleh cogitationes (hasil pemikirannya). Meditasi ala Descartes mereduksi posisi manusia hanyalah pada suatu kesadaran dan keberpikiran dalam versi era moderen, padahal manusia berpotensi lebih banyak daripada kesadaran dan keberpikirannya.

Kehampaan spiritualitas dan kekosongan sikap religiusitas telah menjadi efek samping dari ‘cogito ergo sum’ yang merupakan filsafat saintisme moderen. ‘Ulil Al-Bab’ memang harus menemukan kesadaran dan mencerahkan pemikirannya, tapi semua itu secara spiritual dan religius merupakan bagian inheren pada penghambaan tak bersyarat kepada Allah SWT.

‘Cogito ergo sum’ telah menjadi ‘pintu depan’, “kata pengantar” atau ‘gerbang utama’ untuk menempatkan keberadaan manusia di jagat kemakhlukan sebagai ‘ciptaan yang paling terhormat’. ‘Pintu depan’ ataupun “kata pengantar” ini adalah corong pengeras utama untuk memastikan bahwa bila kau mau disebut manusia moderen berarti harus berpikir. Bila tanpa pemikiran, maka kau akan kehilangan kesadaran jati diri sebagai manusia moderen. Efek yang terjadi justru sebaliknya yakni manusia moderen makin banyak mengalami ‘kehilangan kesadaran’ dan ‘kebuntuan pemikiran’, justru akibat tersesat dalam labirin kesadaran maksimal (cogito maximum). Efek ‘saintisme makan tuan moderen’ ini, membuat saintisme modern didekonstruksi oleh kaum post-modern.

Pendekonstruksi saintisme modern oleh post-modern kini menjadi terminal “kata pengantar II” dalam jagat post-cogitasion. Bila post modern dianggap bisa memberikan ruang kecelakaan baru bagi manusia, post-modern suatu saat akan pula diredekonstruksi oleh “kata pengantar III” berupa post-post modern atau entah sebutan apa lagi. Jadi saintisme moderen dan post-modern tak akan pergi jauh-jauh lebih dari jarak ‘lubang tunggal’ di ‘pintu belakang’.

SELAMAT DATANG SAINTISME MODREN DAN POST-MODERN DI ‘KAMAR BELAKANG’

Islam memang suatu keyakinan yang teramat cerdas, karena walau dari ‘pintu belakang’, ada ajakan untuk membaca walau tanpa literasi verbal. Tak ada agama lain yang mengajarkan penganutnya untuk membaca ‘Manuskrip Suci’ sebelum masuk ‘Kamar Belakang’. Bacaan dari manuskrip yang pertama dibaca yakni suatu penghurufan sakral bagi pencerdasan kebersihan spiritual yakni doa sebelum masuk ‘Water Closet’. Dalam Islam, doa pembuka ‘Bab Kamar Belakang’ yakni ”Alloohumma inni a’uudzu bika minal Khubutsi walkkhobaaits (Ya, Allah sesungguhnya aku berlindung dari Khubuts dan khobaaits).”

Khubuts’ (selanjutnya literasi latinnya tertulis ‘Hubuis’) dan ‘Khobaaits’ (selanjutnya literasi latinnya tertulis ‘Habais’) merupakan ‘setan-setan tersembunyi’ (hidden satans) yang diremehkan keberadaannya, karena berumah di septic tank dan beristana di zona eksklusif pembuangan ampas metabolisme. Keberadaannya yang teremehkan ini, justru menjadi dasar dari milyaran manusia menjadi penghuni Neraka. Keduanya menggoda pada saat semua orang tak berdaya oleh keinginan alami untuk ritus membuang hajat dalam siklus tertentu.

Tempat terbaik bagi saintisme modern memang hanya ‘kamar belakang’, tempat kita semua secara ikhlas melempar sisa makanan mewah maupun ampas junk food. Lemparan sisa makanan itu, anggaplah seperti melempar setan-setan ‘Water Closet’, namun lemparan itu sama sekali tak berguna bila tanpa membaca doa manuskrip suci. Memang ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ beristana dalam ‘Water Closet’, namun makhluk jorok itu sama sekali tak terpengaruh oleh polusi udara dan kontaminasi bau yang dihasilkan bersamaan dengan operasi pelemparan itu. Mereka hanya bisa terpengaruh bila ampas saintisme moderen dan post-modern dibuang dalam iringan doa pengantar kematian ampas-ampas itu.

BAB BELAKANG SUATU PEMBACAAN

Bacaan dari ‘Bab Belakang’ ini merupakan suatu permohonan agar terhindar dari setan jenis ‘Hubuis’ dan ‘Habais’. Tak ada penjelasan yang runtut tentang seperti apa kualifikasi dan kompetensi dua jenis setan tersebut. Memang ada penjelasan tentang identifikasi kelamin keduanya yakni setan jenis ‘Hubuis’ berkelamin laki-laki dan ‘Habais’ berkelamin perempuan. Dua identifikasi itu, hanyalah informasi dasar untuk mengenal dua setan penghuni WC yang juga lazim dalam KTP (Kartu Tanda Penggoda). Data dari KTP setan, bisa menempatkan ‘manusia yang tercerahkan’ untuk terbebas dari ‘godaan setan yang terkutuk’.

Tak perlu diketahui apakah dua jenis setan yang berbeda jenis kelamin itu, sejenis setan ‘pasutri’ (pasangan suami-istri) atau hanya dua setan jomblo. Tugas keduanya secara spesialisasi sebagai master khusus bidang kekotoran belaka, yang tak terpisah oleh bias gender. Urusan pertama dalam menghadapi dua setan ini yaitu berdoa agar tak terperosok dalam godaannya. Urusan selanjutnya tentang siapakah dua jenis setan tersebut, biarlah tetap menjadi ‘misteri hitam’ dari dimensi setan dan keluarga besarnya.

HUBUIS’ DAN ‘HABAIS’, SETAN STRATA TERBAWA UNTUK MENGODA SEGALA STRATA MANUSIA

Ada pula yang mengartikan ‘Hubuis’ dan ‘Habais’, sebagai simbolisasi wujud kekotoran fisik dan jiwa. Dengan membuang hajat fisik, maka kekotoran jiwa diharapkan akan terlarut pula dalam saluran ‘septic tank’. Pengharapan itu bisa dilakukan via saluran doa hot line 24 jam sehari-semalam pada waktu kapan saja dan dimana pun jua. Tanpa doa maka hanya kekotoran fisik yang terbuang dalam ampas metabolisme, sedangkan kekotoran jiwa menumpuk dalam gunungan sampah dalam spritualitas yang keruh.

Sebuah doa anti-‘Hubuis’ dan ‘Habais’ yang dipanjatkan dalam WC yang bersih dan harum, harusnya jauh lebih maqbul daripada ketika membuang hajat di alam terbuka dalam entitas lingkungan yang masih alami. Fenomena yang terjadi justru sebaliknya yakni ketika ruang WC makin bersih dan luks, doa-doa malah terlupakan. ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ lalu terbebas bergentayangan merusak kebajikan manusia secara perlahan-lahan dari WC-WC mahal.

Buang hajat di alam terbuka, malah membuat ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ agak malas memprovokasi godaan, sebab ruang WC itu masih merupakan entitas siklus rantai makanan. Kotoran residu metabolisme di alam terbuka, masih merupakan entitas yang tak terpisah dari alam, sehingga langsung menjadi makanan bagi makhluk serangga dan bintang tak bertulang belakang. ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ tak ingin terlibat memutus siklus alami ini, yang memang bukan bagian dari spesialisasi keluarga besar setan WC.

‘SETAN STRATA TERBAWAH’ MENGINCAR ‘PIANO DAN ORGAN VITAL TERBAWAH’

Di antara trilyunan jumlah setan, dua jenis ‘setan strata terbawah’ ini malah telah merusak jutaan ummat Islam. Hanya karena kencing, mereka mengalami kerusakan mentalitas, kehancuran kebajikan dan bebas tes masuk Neraka. Disebutkan dalam hadits bahwa banyak orang yang masuk Neraka, hanya karena tidak membersihkan ‘organ dan piano vitalnya’, ketika selesai kencing. Tidak diperoleh keterangan tentang nasib ummat non-Islam yang secara ritual tak diperintahkan secara khusus membersihkan dirinya dari najis kecil berupa kencing.

Alangkah memalukannya masuk Neraka hanya karena ulah dari dua setan jenis kasta rendah. Betapa memilukannya, terjerembab dalam ‘sumur Neraka tanpa dasar’, hanya karena kekotoran najis ‘organ dan piano vital’. Menurut kelakar medis, ‘organ dan piano vital’ merupakan ‘kebun binatang’ bakteri dan makhluk-makhluk seram tingkat mikroskopik. Penghuni ‘kebun bintang’ itu hanya bisa dilongok dengan menggunakan mikroskop. Penghuni baru ‘kebun binatang’ tak dipersyaratkan untuk diperiksa kesehatannya bila ingin menetap di habitat itu. Penghuni baru itu tak perlu diperiksa kesehatannya, karena bakteri, kuman, virus dan kawan-kawan memang bertujuan merusak kesehatan. Di pihak lain, air kencing yang tak tersapu bersih dari lingkaran zona ‘piano dan organ vital’, menjadi penyebab seseorang masuk Neraka.

‘Kebun bintang mikroskopik’ itu memang bisa dibersihkan dengan sabun sirih dan pembersih lainnya, meskipun tanpa diembeli ‘doa-doa sakral pembersihan’. Pembersihan di luar jangkauan kemampuan cairan pembersih fabrikan dapat dijangkau via doa-doa anti ‘Hubuis’ dan ‘Habais’. Tindakan higinis spiritual itu, membuat ‘organ dan piano vital’ bersih lahir batin sehingga dapat berfungsi sebagai ‘alat musik pengiring nada-nada religius’ dan ‘pemberi gerakan ritmis sakral pada shalat lima waktu’.

MASUK NERAKA KARENA ULAH SETAN DROP OUT DIPLOMA SATU’

Dari segi akademis, ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ termasuk ‘setan Diploma Satu’, dengan nilai perkuliahan kesetanan, umumnya bernilai ‘C’ dan kebanyakan ‘Error’. Kerendahan tingkat pendidikan akademis dan trauma drop out, membuatnya hanya mengurus penggodaan tingkat rendahan orang-orang yang berada dalam WC atau sedang melakukan pembuangan hajat di mana saja. Pendidikan yang terbatas itu, tak membuatnya gagal memasukan ribuan Professor, Doktor dan Master ke Neraka. Ia malah mampu menjerumuskan lebih banyak orang-orang cerdas ke Neraka daripada setan spesis lainnya, yang berpredikat sarjana dari ‘perguruan tinggi kesetanan’ yang diakreditasi oleh Iblis Azazil.

Sebuah hadits menyebutkan tentang setan yang lebih takut pada orang cerdas yang sedang tidur daripada orang bodoh yang sedang beribadah. Ketakutan setan pada orang cerdas akan berkurang jika orang cerdas itu telah bangun dari tidur, lalu kebelet untuk ‘kencing gawat’ atau kepepet untuk ‘berak darurat’, mencret dan diare. Semua orang cerdas akan merosot kecerdasannya dan segala ilmu pengetahuannya bila diadakan tes potensi akademik, pada saat ia baru bangun dari tidur. Kecerdasannya akan makin merosot dalam keadaan ingin sekali ‘kencing gawat’ atau ‘berak darurat’. Orang cerdas mana pun juga akan minus kemampuan akademisnya dan juga bisa lupa pada Tuhan pada pada saat sedang terserang ‘kencing gawat’ atau ‘berak darurat’.

Pada kemendadakan yang gawat darurat itu, semua setan akan kehilangan ketakutannya pada orang cerdas. setan ‘DO Diploma Satu’ itu termasuk yang paling berani pada pada orang cerdas, yang sedang sekarat dini akibat terserang ‘kencing gawat’ atau ‘berak darurat’. ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ mampu dengan mudah menggoda orang yang cerdas yang ‘mati-mati ayam’ dalam WC, karena terlalu lama bergelut dengan gangguan teknis pembuangan ampas metabolisme.

Bila di WC, orang-orang cerdas lupa Tuhan dalam sebutan doa anti virus Hubuis’ dan ‘Habais’, tentu kebersihan spiritualnya sama sekali tak terlaksana. Hal itu makin bermasalah bila urusan aroma bau pesing dan kebasahan najis masih menempel di pori-pori ‘organ dan piano vital’. Pada najis yang masih menempel itu, maka orang-orang cerdas tak tertolong lagi untuk di servis ‘alat-alat musik biologisnya’ dalam di work shop Neraka.

DOGMA HUBUIS DAN HABAIS DALAM PEMBUANGAN HAJAT

Realitas ‘hubuis’ dan ‘habais’ pernah tergambarkan dalam film ‘Dogma’. Film yang sangat menghinakan dogma Kristen ini, menawarkan ‘humor gelap’ berupa penghujatan pada Yesus, pendeta dan aturan-aturan sakral Kristen dengan cara tertawa renyah. Film tersebut menceritakan sekelompok anak muda dan pendeta yang hendak membuat Teologi Kristen Progresif dengan melakukan kontra-dogma pada ajaran standar Kristen secara umum.

Dalam salah bagian film tersebut, ada seseorang yang masuk ke WC untuk membuang hajat air besar. Mungkin karena tak berdoa pada saat masuk WC, sehingga tahi yang ia keluarkan perlahan-lahan bergerak dan lalu menjelma menjadi ‘satan of water closet’. Setan yang terjelma dari tahi inilah yang bisa dipersamakan dengan ‘Hubuis’ dan ‘Habais’. Tak terbayangkan dalam realitas sehari-hari betapa banyaknya ‘setan dari tahi’ akan tercipta, bila setiap kali masuk di kamar belakang, tak pernah sama sekali membaca doa.

DARI WC, ‘HUBUIS’ DAN ‘HABAIS’ MELAKUKAN ‘WAIT DAN CHEAT’

Ada pengertian yang lebih meluas bahwa ‘hubuis’ merupakan simbol dari kekotoran laki-laki dan ‘habais’ merupakan simbol kekotoran dari perempuan. Kekotoran itu tak hanya dari segi fisik tapi juga dari segi fikiran, niat, sikap, mental, dan spiritual. Jadi orang cerdas yang masuk WC, seharusnya berusaha bersih dalam proses pembacaan diri. Sebuah doa merupakan pengantar penyempurnaan kehidupan higenis, agar senantiasa sehat dan juga afiat. Sehat berkaitan dengan energi fisik dan afiat berkaitan dengan energi spiritual. Memang tak seluruh orang yang cerdas bisa sehat secara fisik dan afiat secara pikiran. Doa-doa anti ‘hubuis’ dan ‘habais’, masih memberi peluang besar agar orang cerdas juga bisa afiat dalam kesakralan pikiran.

Sementara ada juga orang cerdas yang memiliki anomali dalam pikirannnya, sehingga apa yang termaktub dalam area refleksi “perenungan”-nya selalu tak selaras dengan kecerdasan normal dan kepintaran generik yang dimiliki semua orang cerdas secara umum. Mereka yang pikirannya tidak generik ini, sering kali bukan merupakan produk dari pikiran lingkungan sekitarnya. Ia juga memiliki jangkauan futuristik yang melampaui suatu zaman yang dihadirinya. Ia memiliki konsep pemikiran yang berasal dari ‘lingkungan yang tak berkeberadaan’.

Itulah sebabnya banyak pemikiran mereka, tak bisa dipahami oleh arus pikiran normal dan standar intelektualitas di zamannya. Mereka ini sering dijuluki ‘gila’, ‘majnun’, ‘mad’ atau berbagai istilah yang menunjuk pada arti yang bersinonim dengan ‘kegilaan yang tak tercerna oleh teori akademis’. Sedangkan kegilaan yang bisa didata secara akademis, mulai terwujud ketika ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ yang berada di WC melakukan sikap ‘Wait and Cheat’ (menunggu dan menipu) siapa pun yang sedang membuang hajat. Duet setan ini menunggu dan menipu para pembuang hajat, yang tak turut serta membuang kekotoran pikiran dan hatinya. Kegilaan karena hasutan atau provokasi ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ bukanlah sesuatu yang pantas direnungkan, tapi diperbolehkan untuk disesali.

Kegilaan seperti paranoid, psikosis dan skizoprenia bisa diusut dan diteliti dari sikap orang-orang yang melakukan ritual buang hajat. Penelitian terhadap ritual sosial buang hajat, agak susah dilaksanakan sebab siapa yang mau diteliti sikapnya pada saat hendak buang hajat. Penelitian itu akan lebih kerepotan lagi bila dipasang ‘candid camera’, ‘hidden camera’ atau kamera CCTV di lokasi internal WC, sebab telalu kelewatan melanggar privasi. Malah pelakunya bisa terlibat dalam ‘candid camera XXX’ sebagaimana yang terjadi pada artis-artis Indonesia Ayu Azhari DKK.

Paranoid, psikosis dan skizoprenia yang timbul dari zona WC, sampai sekarang belum pernah diteliti secara intensif. Ayu Azhari dan beberapa artis Indonesia pernah mengalami ‘paranoid temporer’ ketika memasuki ruang-ruang WC untuk berganti kostum. Mereka paranoid karena mengira setiap WC untuk ganti kostum, sudah dipasang candid camera. Jika artis Indonesia yang memang menjual keindahan tubuhnya untuk konsumsi ‘mata jalang publik’ (lihat : Ayu Azhary dalam sampul ‘Play Boy’ Edisi Indonesia, yang buah dadanya berharga satu Milyar Rupiah) mengalami paranoid di zona internal WC, tentu kalangan non-artis akan mengalami paranoid yang lebih parah bila anatomi tubuhnya tertangkap oleh ‘candid camera’.

‘HUBUIS’ NOT FOR GENTLEMAN ANDHABAIS’ NEITHER FOR LADIES

Setan ‘Hubuis’ tak memenuhi aturan untuk hanya memasuki WC yang tertulis “gentleman, laki-laki dan gambar simbol laki-laki”. ‘Habais’ juga tak akan hanya memasuki WC yang tertulis “ladies, perempuan dan gambar simbol perempuan yang mengenakan rok”. ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ menafikan tulisan dan simbol semacam itu, lalu memasuki WC sesuka-sukanya. Dalam peradatan setaniyah, tak boleh ada peraturan yang tak boleh di langgar, apalagi itu hanya peraturan manusia yang memang hanya ditujukan untuk manusia pengguna WC. Setan berani tak mentaati perintah Tuhan, maka peraturan manusia di pintu WC juga boleh dilanggar oleh ‘Hubuis’ dan ‘Habais’.

Secara paralel di seluruh dunia, ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ bertugas secara bersama-sama di setiap WC yang tak terbacakan doa-doa. WC yang bersih dan luks yang penggunanya tak melafalkan satu pun bait doa, sering digunakan para setan sebagai lokasi gaul ‘WC night Party’. WC yang kotor dan bau bisa membuat ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ tak betah menjalankan ritus rutin, sebab yang pengguna mau digoda dalam jerumusan ‘dosa-dosa ampas’, juga enggan menggunakan WC tersebut.

WC yang kotor, jorok dan bau bertahun-tahun terjadi hampir di seluruh WC Universitas Hasanuddin. Mahasiswa yang agak paradoks kapasitas iman dan takwanya pasti tak sempat membaca doa-doa anti ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ dan menggantinya doa-doa idealisme yakni “ya Allah selamatkan kami dari rektor dan pembantu rektor maupun dekan dan pembantu dekan yang tak becus mengurus WC.” Bagi mereka, rektor dan pembantu rektor maupun dekan dan pembantu dekan, jauh lebih berbahaya dari sindikat setan-setan ‘Hubuis’ dan ‘Habais’. Pembaca doa-doa Idealisme biasanya kaum demonstran, aktivis mahasiswa kritis dan pengguna WC yang beraliran ‘perennial Idealispiritual’. Mayoritas mahasiswa yang agak paradoks iman dan takwanya, bukanlah golongan ‘ladies and gentleman’.

SINEMATOGRAFI CANDID CAMERA DAN ‘URBAN CULTURE’ VERSI ‘HUBUIS’ DAN ‘HABAIS’

Selain melindungi diri dalam rangkaian doa-doa, para pengguna WC harus juga berhati-hati pada ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ berbentuk manusia, yang memiliki keahlian sinematografi ala ‘candid camera’. Proyek sinematografi amatir dari personifikasi ‘Hubuis’ dan ‘Habais’, telah membuat artis-artis dan gadis-gadis non-artis memasuki ‘sinematografi kilasan pornografi’ dalam ‘candid camera’.

‘Hubuis’ dan ‘Habais’ berbentuk manusia bukanlah tipe ‘gentleman’ dan ‘ladies’, yang memiliki aturan dan disiplin tersendiri terhadap ketelanjangan di area ekstra rahasia seperti WC. ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ dalam metamorfosa jin, arwah gentayangan dan manusia, sama-sama berbahaya bagi kerahasiaan diri seseorang di sekujur kulitnya. ‘Hubuis’dan ‘Habais’ dalam metamormosa jin dan arwah gentayangan bisa diusir sejauh satu putaraan terbenamnya matahari hanya dengan sejumput doa-doa. ‘Hubuis’dan ‘Habais’ dalam mtamorfosa manusia, susah diusir dengan doa-doa tapi perlu ditangani dan ‘dikakii’ lewat tindakan satpam, bodyguard dan polisi.

‘Hubuis’ dan ‘Habais’ yang bertubuh manusia, kebal pada doa-doa apa saja yang tak disertai dengan dengan sedikit gertakan satpam, bodyguard dan polisi. ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ yang berwujud sebagai kurator seni seperti Jim Supangkat memperbolehkan pertontonan sekujur ornamen dan segenap relief tubuh hingga ke akar pori-porinya, dalam suatu pameran kebudayaan dan atas nama seni. Replika ‘Hubuis’dan ‘Habais’ berbentuk manusia dapat berupa artis Anjasmara dan Isabell yang mempertontonkan ‘ketelanjangan berbudaya’ di pameran ‘Urban Culture’.

Nudisme dalam bentuk seni, justru perlu FPI (Front Pembela Islam) untuk turun tangan menghadapinya, karena organisasi Islam lainnya terhambat kesadarannya untuk memahami nudisme di wilayah publik Islami. Hambatan itu diperparah oleh ketiadaan defenisi pornografi dan pornoaksi yang sampai sekarang belum terakui dalam konsensus akademis dan istilah hukum Indonesia. Kelambanan organisasi Islam menghadapi proyek ekspresi kultural nudisme urban, karena memang kebanyakan ummat Islam gagal menghadapi ‘Hubuis’dan ‘Habais’ di WC masing-masing.

Ketika menghadapi setan dari kalangan artis, banyak juga ummat Islam terpesona dalam aliran fantasi, syahwat dan keterpesonaan dalam ‘sindrom Aresian dan Venusian’ (Sindrom pemujaan pada kejantanan dewa perang Ares dan dewi seksi Venus). Fantasi, syhawat dan sidrom itu makin menemukan pembenaran peradaban kebudayaan urban, karena terbalut dalam ekspose kebebasan ekspresi seni. Zinah mata akibat menatap pameran nudisme urban, tak bisa terhindari dalam wilayah kapitalissi seni moderen dan posmo. Hampir-hampir setiap menit, mata kaum Muslim berada dalam ‘zinah majemuk’, sebab nudisme total dan semi-nudisme sudah menjadi kejamakan modernisme kehidupan.

‘Sindrom Aresian dan Venusian’ akan muncul diketiba-tibaan bila sedang terkurung dalam tontonan laju seni urban yang merayap di supermarket, hypermarket, televisi, cinema, majalah maupun iklan dan apa saja. Bila sindrom itu muncul, hampir-hampir tak ada doa yang bisa menjadi tameng untuk terhindar dari ketiba-tibaan itu. Tanpa doa setitikpun, maka setan tak kan terlalu berkeringat di ruang AC untuk menggoda orang-orang yang kerasukan ‘sindrom Aresian dan Venusian’.

EKSPOSE KELAMIN PADA LABEL KAPITALISASI ESTETIKA NUDISME

Modernisme dan Pos-Modernisme inkarnasi replika ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ pada sosok manusia, telah menjadi satu sumber keterasingan baru atas etika agama dan moralitas sakral dari panduan wahyu Tuhan. ‘Ladies’ dan ‘Gentleman’ yang bersintesa atau sekaligus menjadi replika ‘Hubuis’ dan ‘Habais, bukan lagi penanda jenis kelamin di suatu WC. ‘Ladies’ dan ‘Gentleman’ berubah sebagai sosok pameranisasi ekspose kelamin yang diberi label kapitalisasi estetika nudisme. Para mahasiswa Islam kebanyakan juga memamah biak pornografi dan pornoaksi dalam berbagai aktivitas remang-remang dan terang-terangan di kamar-kamar kost. Dalam ‘kemunafikan yang manja’, mereka sesekali juga ikut berdemonstrasi menentang dan membakar majalah/tabloid Play Boy edisi Indoensia, sedangkan Play Boy edisi Amerika tersimpan dengan baik dalam lemari pakaian dan di balik bantal.

Ladies’ dan ‘Gentleman’ berada di tempat terhormat sebagai pampangan tulisan yang membedakan dua jenis WC untuk dua jenis kelamin ‘woman and man’. Moralitas pemuliaan dan penghormatan tubuh manusia telah turun ke taraf kekotoran seperti halnya membuang gas kentut, kencing atau tinja. Kekotoran moralitas ekspose kelaminasasi itu, tetap dihargai demi supremasi kebudayaan, kapitalisme seni dan kebebasan pers maupun untuk tuntutan ilmu pengetahuan Moderen/Pos-Moderen.

Ladies and gentleman’ sebagai sebutan bagi pemuliaan manusia dalam konteks bahasa Inggris akhirnya hanya terpakai sebagai demarkasi jenis kelamin untuk buang hajat. Bagi ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ demarkasi jenis kelamin itu tak punya kekuatan apa-apa terhadap mereka yang kebelet membuang hajat. Tanpa satu pun kekuatan spiritual dalam doa-doa di markas setan-setan tinja tersebut, ‘Ladies’ dan ‘Gentleman’ tak lebih kotor dari kenajisan abadi ‘Hubuis’ dan ‘Habais’.

MODERNITAS DAN POS-MODERNITAS ‘HUBUIS’ DAN ‘HABAIS’ DI INDONESIA

Kekotoran birokrasi Indonesia zaman ini, merupakan perluasan modernitas dari kenajisan ruang kerja ‘hubuis’ dan ‘habais’. Indonesia sudah hancur dari segi moral birokrasi, pemerintahan, parlemen, aparat polisi, militer, pemuka agama, intelektual, mahasiswa, aparat kehakiman dan kejaksaan maupun semua komponen bangsa. Mereka yang mungkin bisa terhindar dari ‘Hubuis; dan ‘Habais’ ini tentulah intelektual yang tercerahkan secara spiritual, yang masih sanggup membaca diri sendiri mulai dari ‘Bab Kamar Belakang’.

Intelektual yang terbebas dari kekotoran zaman edan ini, pastilah memiliki kebebasan najis akibat ronrongan ‘Hubuis’ dan ‘Habais’. Bila intelektual belum bebas dari ‘kejahatan internal’ yang meronrong energi spiritual dari balik ‘Bab Kamar Belakang’, maka setan-setan lainnya akan makin mudah menjerumuskan kaum intelektual/cendekiawan yang sudah terbangun dari tidurnya.

Intelektual/cendekiawan kritis merupakan pembaca yang tak butuh lagi ‘Kata Pengantar’, ‘Avant Provos’, ‘Pendahuluan’, ‘Mukaddimah’, ‘Prolog’ dan ‘Pembukaan’ untuk memahami semua isi semua bab suatu buku. Tanpa kebutuhan akan basa-basi ‘Kata Pengantar’, seorang intelektual kritis bisa langsung membaca dirinya sendiri dari ‘Bab Kamar Tengah’ hingga di ‘Bab Kamar Belakang’. Intelektual/cendekiawan berada di zona krisis bila sudah tak sanggup membaca doa apapun, bila telah mencapai pintu ‘Bab Kamar Belakang’.

Krisis kaum intelektual/cendekiawan akan makin berat, bila ia hanya menjadi ‘pembaca yang sukses’ untuk suatu ‘Pendahuluan’, ‘Kata Pengantar’ dan sejenisnya. Pemikiran intelektual bisa tercederai dari segi spiritual bila meremehkan kekuatan godaan ‘setan Diploma Satu’ yang berfakultas di ‘Bab Kamar Belakang’. Bila kaum intelektual gagal membaca dirinya sendiri dalam perlindungan doa-doa di ‘Bab Kamar Belakang’, maka sia-sia pulalah pembacaan semua pengetahuan di ‘Bab Kamar Depan’ dalam bentuk ‘Pendahuluan’ dan ‘Kata Pengantar’.

Sosok Intelektual/cendekiawan kritis tertipekan sebagai pembaca yang mampu memulai keintelektualannya dengan keselamatan spiritual dari ‘Bab Kamar Belakang’ atau ‘Pintu Halaman Akhir’. Kecerdasan yang terbebaskan dari godaan setan ‘Hubuis’ dan ‘Habais’, tentulah dapat menghindari diri dari kekotoran ‘limbah pikiran’, ‘tinja mental’, ‘ampas emosional’ dan ‘tahi spiritual’. Demi kehendak mencapai ‘kecerdasan yang terbebaskan’ sebaiknya berhentilah selalu mulai membaca dari ‘Bab Kamar Depan’, ‘Halaman Pertama’, ‘Avant Provos’, ‘Bab Satu’, ‘Pendahuluan’ maupun ‘Kata Pengantar’

PEMBACAAN PATERNALISTIK, KESALAHAN PENGGUNAAN “PENA” DAN “TINTA” PADA KARAKTER BANGSA INI

Membaca karakter bangsa ini sudah merupakan bacaan kesesatan umum, salah satunya (baca: sudah satu yang salah) yakni tentang pembacaan karakter bangsa ini dari sistem paternalistik. Pada sistem paternalistik, mereka yang disebut ‘Bapak’ dijadikan sebagai bukti acuan moralitas, penghormataan dan pemuliaan. Para ‘Bapak’ berupa sosok pejabat negara, pemuka agama, cendekiawan, birokrat eselon atas, petinggi militer dan sebagainya, dijadikan satu polar tunggal dalam melihat penilaian berbagai segi. Jika moralitas kaum bapak ini rusak, maka rusak pula moralitas orang-orang yang menjadi ‘anak-anak’ atau yang lebih rendah statusnya dari ‘kasta sang pater’ itu.

Pembacaan ‘Halaman Pertama’ atau ‘Bab Satu’ dari sistem paternalistik, menjadi limpahan-ruah demoralisasi birokrasi seperti korupsi dan variannya di segala bidang. Jika ‘Sang Bapak’ korup, maka ‘anak-anak’ yang berwujud sebagai anak buah, anak bawang, anak murid dan anak papi, pasti juga korup. Jika guru kencing berlari, maka murid kencing balapan. Guru yang kencing berlari, akan didampingi ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ yang juga ikut menghela napas kuda. Murid kencing balapan, akan disertai pula ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ yang berlari pula pada akselerasi pemecahan rekor.

‘Kencing berlari’ dan ‘kencing balapan’ seperti itu tentu harus dalam konteks ‘Off-WC’ (di luar wilayah WC). Harus ada do-doa baru atau ‘doa-doa biddah’ untuk dipakai pada guru yang kencing berlari dan murid yang kencing balapan, yang terjadi di luar zonasi WC. Protip ‘bapak guru’ dan ‘anak murid’ yang susah mengurus kencingnya, persis sama dengan sistem paternalistik yang susah mengurus ‘kebapakannya’ dan ‘keanakannya’. ‘Bapak’ yang korup dijadikan pantulan cermin oleh ‘anak-anaknya’ untuk menjadi korup pula. Korupsi itu tersimbolkan dalam bentuk konotasi kencing sembarangan dan menyebarkan bau pesing dimana-mana.

‘PROGRAM KENCING’ GURU DAN MURID HINGGA PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN

Guru dan murid yang susah mengurus ‘program kencing’, berarti akan melakukan perbuatan najis lainnya secara gampang. Korupsi menghasilkan harta najis yang berbau pesing keharamannya dan merusak tatanan moralitas paten lainnya untuk menjadi kesatuan praktek keharaman. Pada korupsi, kita “menutup mata” dalam melihat prakteknya, sedangkan pada praktek kencing sembarangan, kita “menutup hidung”.

Seharusnya bukan mata dan hidung yang ditutup, tapi sumber kekotoran dan kenajisan itu yang ditutup. Warga bangsa yang bobrok ini lebih memilih menggunakan tangan untuk melakukan perluasan kekotoran dan kenajisan. Tangan yang memperluas kekotoran dan kenajisan digunakan pula untuk menutup ‘efek buruk pemandangan’ dan ‘efek busuk bebauan’ itu di kantor polisi, kejaksaan dan kehakiman. Jika ‘tangan hukum’ digunakan menarik kerah putih pelaku koruptor untuk diseret di lapangan tembak atau penjara seumur hidup, maka tangan itu tak perlu dipergunakan untuk menutup mata dan hidung.

Organ bapak/guru dan anak/murid yang dipakai untuk kencing bagaikan “pena”, sedangkan air kencing itu bagaikan “tinta”. Pembacaan tentang karakter sejati sang bapak/guru dan si anak/murid, dapat diketahui pada apa yang dituliskan melalui properti biologis berupa “pena” dan “tinta” yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Apa lagi yang bisa ditulis secara baik dalam bentuk etika, moralitas dan keteladaan, jika sang guru “menulis” sambil berlari dan si murid melakukannya sambil balapan? Semua kertas akan susah ditulisi sebab akan terlanjur hancur, basah kuyub dan rusak berkeping lumat.

Jika bangsa ini terus menerus membaca dirinya dari ‘Halaman Pertama’ atau ‘Bab Satu’, maka akan kesulitan jika harus membaca diri dari ‘halaman belakang’, ‘Kamar belakang’ atau ‘Halaman terakhir’ yang bernama WC. Korupsi akan terus terbaca di buku sejarah hitam bangsa ini hingga di halaman terakhir, sebab memang begitulah yang tertulis dari “pena” dan “tinta” yang dipakai oleh ‘simbol paternalistik guru dan murid’.

Suatu hari sewaktu menjabat Wakil Presiden RI, BJ. Habibie berkomentar, “Pak Harto, guru besar saya dalam bidang politik!” Nach, apakah politik yang dimaksudkan BJ. Habibie sama seperti ‘praktek kencing’ antara guru dan murid atau antara presiden dan wakil presiden? Tentu bila politik bersinonim dengan kencing, akan banyak WC umum yang akan dibangun, lalu seperti biasa proyek WC jadi lahan korupsi berbau pesing. Bau pesing ini tetap dilanjutkan oleh para yunior Orba seperti SBY-JK, cuma antara keduanya tak terlalu jelas siapa yang guru dan murid?

TAK ADA ‘BCDFHIJLMOQSUVWXYZ’ PADA ‘KATA PENGANTAR’

Jangan pernah membuka pintu area kecerdasan dalam pembacaan suatu buku dengan membukanya melalui ‘Kata Pengantar’, alasan pertama yakni tak ada ’BCDFHIJKLMOQSUVWXYZ’ pada ‘Kata Pengantar’. Kita tak bisa membuka pikiran bila kehilangan ’18 alfabet’, sedangkan ‘Kata Pengantar’ hanya memiliki ‘8 jenis alfabet’ yang kemudian bersekutu membentuk dua susunan kata. Tak mungkin pikiran bisa terbuka kritis hanya dengan berbasis pada ‘8 alfabet’ belaka.

Bila pikiran terbuka, maka pikiran itu tak terbebas dari tirai kertas pembatasan, demi mendalami suatu pembacaan. ‘8 alfabet’ yang bila ditulis secara vertikal, sama sekali tak terlalu tinggi susunannya bila dilihat dari bawah. Susunan alfabet itu tak akan terlalu dalam, bila dilihat dari atas. Mungkin dibutuhkan alasan kedua, ketiga atau hingga kesepuluh untuk meyakinkan betapa tak berharganya pembacaan suatu buku yang dimulai dengan ’Kata Pengantar’. Jika memang hendak membuka suatu bab, seorang pembaca yang hendak tercerdaskan, hanya perlu ‘alasan pertama’ untuk tak lagi peduli pada ‘Kata Pengantar’.

MENGEJA ALFABET DENGAN MEMBACA ANGKA

12345’B’789101112’A’1314151617’C’181920’A’21212324’’L252627’A’282930’H’313’D’2333435’E’36338’N’3940’G’41’A’42’N’43’N’4445’A’4647’M’484950’A’5152535455’T’5657’U’5859’H’6061’A’6263’N’646566667’M’6869’U’7071’Y’72’A’73’N’7475’G’7677’M’778’E’7980’N’81’C’8283’I’8485’P’8687’T’88899091’A’9293’K’949596’A’979899’N’100101102102103104105106107108109110111112113114

Bagi yang ingin mengeja alfabet dan membaca angka, al-Qur’an mengajarkan umat Islam suatu peradaban pengetahuan yang dimulai dengan membaca dan harus membaca (lihat: Surat 96/Al-Alaq ayat pertama). Secara literal jumlah keseluruhan yang harus dibaca adalah 114 surat)

Hello world!

Posted in Uncategorized on Mei 2, 2008 by ostafologi

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!