ostafologimatikiri 1

MANUSKRIPSA OSTAFOLOGI MATI KIRI 01

Oleh: Ostaf Al Mustafa

MANUSKRIP TANPA KATA PENGANTAR

Pada bukuholik atau biblioholik, tidak lagi membaca buku selalu dimulai dari ‘Kata Pengantar’, ‘Avant Provos’,‘Pendahuluan’, ‘Prolog’, ‘Mukaddimah’ atau ‘Pembukaan’. Mengapa pembacaan sebuah buku harus selalu di buka dari halaman ‘i’, ‘1’ atau ‘I’? Aturan dari mana sebuah buku harus selalu dibaca dari halaman depan? Mengapa pintu kecerdasan selalu harus dibuka melalui ‘jendela muka’ dan ‘pintu depan’? Sering disebutkan tentang buku sebagai ‘jendela ilmu pengetahuan’, tapi tak ada ketentuan untuk membuka jendela dunia harus dimulai dari ‘Kata Pengantar’ sebagai jendela terdepan suatu permakluman pengetahuan.

Dalam istilah Islam, orang yang tercerdaskan di sebut sebagai ‘Ulil Al-Bab’, secara harfiah berarti ‘Pembuka Pintu’ atau ‘Penghulu Pintu’. Istilah keintelektualan lainnya yang dikemukakan Al-Gazali berupa Dzawi Al-bab (Ilmuwan), disebutkan sebagai intelektual yang berada di jalan yang benar. Dalam ‘Ulil Al-Bab’ terdapat ‘kibar ahlul ilmi’ (pakar keilmuan yang mumpuni), ‘ahlul ilmi’ (cendekiawan secara umum) dan ‘tholabul ilmi’ (penuntut ilmu/kalangan terpelajar).

Jalan pencerdasan dalam Islam, tak pernah memerintahkan sebuah pintu (Al-Bab) harus dibuka dari ‘Pintu Depan’ atau “Bab Pertama’. Ini bisa berarti bahwa, jika ingin masuk ruang pencerdasan secara benar, maka bisa dimulai dari ‘Bab atau Pintu mana saja’. Pencerdasan mungkin juga bisa dimulai dari ‘Pintu Kamar Belakang’, disanalah tempat segala hajat terbuang dalam bentuk air kecil dan air besar.

MEDITASI CARTESIAN “KATA PENGANTAR” YANG BURUK DALAM SAINTISME ERA MODERN

Pekerjaan pembuktian kecerdasan sang ulil al bab, secara parsial dan fragmentatif pernah disebut sebagai ‘meditasi Cartesian’. Pada meditasi ini, kesadaran atau sikap berpikir sangat diutamakan sebagai proritas tertinggi. Descartes yang juga dikenal sebagai peletak patok dasar ilmu-ilmu moderen, mengemukakan hakekat manusia sebagai ‘cogito ergo sum’ (aku berpikir maka aku ada atau aku berkesadaran maka aku ada). Keberadaan manusia terbatas pada adanya cogitation (pemikiran), sehingga manusia hanyalah ditentukan oleh cogitationes (hasil pemikirannya). Meditasi ala Descartes mereduksi posisi manusia hanyalah pada suatu kesadaran dan keberpikiran dalam versi era moderen, padahal manusia berpotensi lebih banyak daripada kesadaran dan keberpikirannya.

Kehampaan spiritualitas dan kekosongan sikap religiusitas telah menjadi efek samping dari ‘cogito ergo sum’ yang merupakan filsafat saintisme moderen. ‘Ulil Al-Bab’ memang harus menemukan kesadaran dan mencerahkan pemikirannya, tapi semua itu secara spiritual dan religius merupakan bagian inheren pada penghambaan tak bersyarat kepada Allah SWT.

‘Cogito ergo sum’ telah menjadi ‘pintu depan’, “kata pengantar” atau ‘gerbang utama’ untuk menempatkan keberadaan manusia di jagat kemakhlukan sebagai ‘ciptaan yang paling terhormat’. ‘Pintu depan’ ataupun “kata pengantar” ini adalah corong pengeras utama untuk memastikan bahwa bila kau mau disebut manusia moderen berarti harus berpikir. Bila tanpa pemikiran, maka kau akan kehilangan kesadaran jati diri sebagai manusia moderen. Efek yang terjadi justru sebaliknya yakni manusia moderen makin banyak mengalami ‘kehilangan kesadaran’ dan ‘kebuntuan pemikiran’, justru akibat tersesat dalam labirin kesadaran maksimal (cogito maximum). Efek ‘saintisme makan tuan moderen’ ini, membuat saintisme modern didekonstruksi oleh kaum post-modern.

Pendekonstruksi saintisme modern oleh post-modern kini menjadi terminal “kata pengantar II” dalam jagat post-cogitasion. Bila post modern dianggap bisa memberikan ruang kecelakaan baru bagi manusia, post-modern suatu saat akan pula diredekonstruksi oleh “kata pengantar III” berupa post-post modern atau entah sebutan apa lagi. Jadi saintisme moderen dan post-modern tak akan pergi jauh-jauh lebih dari jarak ‘lubang tunggal’ di ‘pintu belakang’.

SELAMAT DATANG SAINTISME MODREN DAN POST-MODERN DI ‘KAMAR BELAKANG’

Islam memang suatu keyakinan yang teramat cerdas, karena walau dari ‘pintu belakang’, ada ajakan untuk membaca walau tanpa literasi verbal. Tak ada agama lain yang mengajarkan penganutnya untuk membaca ‘Manuskrip Suci’ sebelum masuk ‘Kamar Belakang’. Bacaan dari manuskrip yang pertama dibaca yakni suatu penghurufan sakral bagi pencerdasan kebersihan spiritual yakni doa sebelum masuk ‘Water Closet’. Dalam Islam, doa pembuka ‘Bab Kamar Belakang’ yakni ”Alloohumma inni a’uudzu bika minal Khubutsi walkkhobaaits (Ya, Allah sesungguhnya aku berlindung dari Khubuts dan khobaaits).”

Khubuts’ (selanjutnya literasi latinnya tertulis ‘Hubuis’) dan ‘Khobaaits’ (selanjutnya literasi latinnya tertulis ‘Habais’) merupakan ‘setan-setan tersembunyi’ (hidden satans) yang diremehkan keberadaannya, karena berumah di septic tank dan beristana di zona eksklusif pembuangan ampas metabolisme. Keberadaannya yang teremehkan ini, justru menjadi dasar dari milyaran manusia menjadi penghuni Neraka. Keduanya menggoda pada saat semua orang tak berdaya oleh keinginan alami untuk ritus membuang hajat dalam siklus tertentu.

Tempat terbaik bagi saintisme modern memang hanya ‘kamar belakang’, tempat kita semua secara ikhlas melempar sisa makanan mewah maupun ampas junk food. Lemparan sisa makanan itu, anggaplah seperti melempar setan-setan ‘Water Closet’, namun lemparan itu sama sekali tak berguna bila tanpa membaca doa manuskrip suci. Memang ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ beristana dalam ‘Water Closet’, namun makhluk jorok itu sama sekali tak terpengaruh oleh polusi udara dan kontaminasi bau yang dihasilkan bersamaan dengan operasi pelemparan itu. Mereka hanya bisa terpengaruh bila ampas saintisme moderen dan post-modern dibuang dalam iringan doa pengantar kematian ampas-ampas itu.

BAB BELAKANG SUATU PEMBACAAN

Bacaan dari ‘Bab Belakang’ ini merupakan suatu permohonan agar terhindar dari setan jenis ‘Hubuis’ dan ‘Habais’. Tak ada penjelasan yang runtut tentang seperti apa kualifikasi dan kompetensi dua jenis setan tersebut. Memang ada penjelasan tentang identifikasi kelamin keduanya yakni setan jenis ‘Hubuis’ berkelamin laki-laki dan ‘Habais’ berkelamin perempuan. Dua identifikasi itu, hanyalah informasi dasar untuk mengenal dua setan penghuni WC yang juga lazim dalam KTP (Kartu Tanda Penggoda). Data dari KTP setan, bisa menempatkan ‘manusia yang tercerahkan’ untuk terbebas dari ‘godaan setan yang terkutuk’.

Tak perlu diketahui apakah dua jenis setan yang berbeda jenis kelamin itu, sejenis setan ‘pasutri’ (pasangan suami-istri) atau hanya dua setan jomblo. Tugas keduanya secara spesialisasi sebagai master khusus bidang kekotoran belaka, yang tak terpisah oleh bias gender. Urusan pertama dalam menghadapi dua setan ini yaitu berdoa agar tak terperosok dalam godaannya. Urusan selanjutnya tentang siapakah dua jenis setan tersebut, biarlah tetap menjadi ‘misteri hitam’ dari dimensi setan dan keluarga besarnya.

HUBUIS’ DAN ‘HABAIS’, SETAN STRATA TERBAWA UNTUK MENGODA SEGALA STRATA MANUSIA

Ada pula yang mengartikan ‘Hubuis’ dan ‘Habais’, sebagai simbolisasi wujud kekotoran fisik dan jiwa. Dengan membuang hajat fisik, maka kekotoran jiwa diharapkan akan terlarut pula dalam saluran ‘septic tank’. Pengharapan itu bisa dilakukan via saluran doa hot line 24 jam sehari-semalam pada waktu kapan saja dan dimana pun jua. Tanpa doa maka hanya kekotoran fisik yang terbuang dalam ampas metabolisme, sedangkan kekotoran jiwa menumpuk dalam gunungan sampah dalam spritualitas yang keruh.

Sebuah doa anti-‘Hubuis’ dan ‘Habais’ yang dipanjatkan dalam WC yang bersih dan harum, harusnya jauh lebih maqbul daripada ketika membuang hajat di alam terbuka dalam entitas lingkungan yang masih alami. Fenomena yang terjadi justru sebaliknya yakni ketika ruang WC makin bersih dan luks, doa-doa malah terlupakan. ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ lalu terbebas bergentayangan merusak kebajikan manusia secara perlahan-lahan dari WC-WC mahal.

Buang hajat di alam terbuka, malah membuat ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ agak malas memprovokasi godaan, sebab ruang WC itu masih merupakan entitas siklus rantai makanan. Kotoran residu metabolisme di alam terbuka, masih merupakan entitas yang tak terpisah dari alam, sehingga langsung menjadi makanan bagi makhluk serangga dan bintang tak bertulang belakang. ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ tak ingin terlibat memutus siklus alami ini, yang memang bukan bagian dari spesialisasi keluarga besar setan WC.

‘SETAN STRATA TERBAWAH’ MENGINCAR ‘PIANO DAN ORGAN VITAL TERBAWAH’

Di antara trilyunan jumlah setan, dua jenis ‘setan strata terbawah’ ini malah telah merusak jutaan ummat Islam. Hanya karena kencing, mereka mengalami kerusakan mentalitas, kehancuran kebajikan dan bebas tes masuk Neraka. Disebutkan dalam hadits bahwa banyak orang yang masuk Neraka, hanya karena tidak membersihkan ‘organ dan piano vitalnya’, ketika selesai kencing. Tidak diperoleh keterangan tentang nasib ummat non-Islam yang secara ritual tak diperintahkan secara khusus membersihkan dirinya dari najis kecil berupa kencing.

Alangkah memalukannya masuk Neraka hanya karena ulah dari dua setan jenis kasta rendah. Betapa memilukannya, terjerembab dalam ‘sumur Neraka tanpa dasar’, hanya karena kekotoran najis ‘organ dan piano vital’. Menurut kelakar medis, ‘organ dan piano vital’ merupakan ‘kebun binatang’ bakteri dan makhluk-makhluk seram tingkat mikroskopik. Penghuni ‘kebun bintang’ itu hanya bisa dilongok dengan menggunakan mikroskop. Penghuni baru ‘kebun binatang’ tak dipersyaratkan untuk diperiksa kesehatannya bila ingin menetap di habitat itu. Penghuni baru itu tak perlu diperiksa kesehatannya, karena bakteri, kuman, virus dan kawan-kawan memang bertujuan merusak kesehatan. Di pihak lain, air kencing yang tak tersapu bersih dari lingkaran zona ‘piano dan organ vital’, menjadi penyebab seseorang masuk Neraka.

‘Kebun bintang mikroskopik’ itu memang bisa dibersihkan dengan sabun sirih dan pembersih lainnya, meskipun tanpa diembeli ‘doa-doa sakral pembersihan’. Pembersihan di luar jangkauan kemampuan cairan pembersih fabrikan dapat dijangkau via doa-doa anti ‘Hubuis’ dan ‘Habais’. Tindakan higinis spiritual itu, membuat ‘organ dan piano vital’ bersih lahir batin sehingga dapat berfungsi sebagai ‘alat musik pengiring nada-nada religius’ dan ‘pemberi gerakan ritmis sakral pada shalat lima waktu’.

MASUK NERAKA KARENA ULAH SETAN DROP OUT DIPLOMA SATU’

Dari segi akademis, ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ termasuk ‘setan Diploma Satu’, dengan nilai perkuliahan kesetanan, umumnya bernilai ‘C’ dan kebanyakan ‘Error’. Kerendahan tingkat pendidikan akademis dan trauma drop out, membuatnya hanya mengurus penggodaan tingkat rendahan orang-orang yang berada dalam WC atau sedang melakukan pembuangan hajat di mana saja. Pendidikan yang terbatas itu, tak membuatnya gagal memasukan ribuan Professor, Doktor dan Master ke Neraka. Ia malah mampu menjerumuskan lebih banyak orang-orang cerdas ke Neraka daripada setan spesis lainnya, yang berpredikat sarjana dari ‘perguruan tinggi kesetanan’ yang diakreditasi oleh Iblis Azazil.

Sebuah hadits menyebutkan tentang setan yang lebih takut pada orang cerdas yang sedang tidur daripada orang bodoh yang sedang beribadah. Ketakutan setan pada orang cerdas akan berkurang jika orang cerdas itu telah bangun dari tidur, lalu kebelet untuk ‘kencing gawat’ atau kepepet untuk ‘berak darurat’, mencret dan diare. Semua orang cerdas akan merosot kecerdasannya dan segala ilmu pengetahuannya bila diadakan tes potensi akademik, pada saat ia baru bangun dari tidur. Kecerdasannya akan makin merosot dalam keadaan ingin sekali ‘kencing gawat’ atau ‘berak darurat’. Orang cerdas mana pun juga akan minus kemampuan akademisnya dan juga bisa lupa pada Tuhan pada pada saat sedang terserang ‘kencing gawat’ atau ‘berak darurat’.

Pada kemendadakan yang gawat darurat itu, semua setan akan kehilangan ketakutannya pada orang cerdas. setan ‘DO Diploma Satu’ itu termasuk yang paling berani pada pada orang cerdas, yang sedang sekarat dini akibat terserang ‘kencing gawat’ atau ‘berak darurat’. ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ mampu dengan mudah menggoda orang yang cerdas yang ‘mati-mati ayam’ dalam WC, karena terlalu lama bergelut dengan gangguan teknis pembuangan ampas metabolisme.

Bila di WC, orang-orang cerdas lupa Tuhan dalam sebutan doa anti virus Hubuis’ dan ‘Habais’, tentu kebersihan spiritualnya sama sekali tak terlaksana. Hal itu makin bermasalah bila urusan aroma bau pesing dan kebasahan najis masih menempel di pori-pori ‘organ dan piano vital’. Pada najis yang masih menempel itu, maka orang-orang cerdas tak tertolong lagi untuk di servis ‘alat-alat musik biologisnya’ dalam di work shop Neraka.

DOGMA HUBUIS DAN HABAIS DALAM PEMBUANGAN HAJAT

Realitas ‘hubuis’ dan ‘habais’ pernah tergambarkan dalam film ‘Dogma’. Film yang sangat menghinakan dogma Kristen ini, menawarkan ‘humor gelap’ berupa penghujatan pada Yesus, pendeta dan aturan-aturan sakral Kristen dengan cara tertawa renyah. Film tersebut menceritakan sekelompok anak muda dan pendeta yang hendak membuat Teologi Kristen Progresif dengan melakukan kontra-dogma pada ajaran standar Kristen secara umum.

Dalam salah bagian film tersebut, ada seseorang yang masuk ke WC untuk membuang hajat air besar. Mungkin karena tak berdoa pada saat masuk WC, sehingga tahi yang ia keluarkan perlahan-lahan bergerak dan lalu menjelma menjadi ‘satan of water closet’. Setan yang terjelma dari tahi inilah yang bisa dipersamakan dengan ‘Hubuis’ dan ‘Habais’. Tak terbayangkan dalam realitas sehari-hari betapa banyaknya ‘setan dari tahi’ akan tercipta, bila setiap kali masuk di kamar belakang, tak pernah sama sekali membaca doa.

DARI WC, ‘HUBUIS’ DAN ‘HABAIS’ MELAKUKAN ‘WAIT DAN CHEAT’

Ada pengertian yang lebih meluas bahwa ‘hubuis’ merupakan simbol dari kekotoran laki-laki dan ‘habais’ merupakan simbol kekotoran dari perempuan. Kekotoran itu tak hanya dari segi fisik tapi juga dari segi fikiran, niat, sikap, mental, dan spiritual. Jadi orang cerdas yang masuk WC, seharusnya berusaha bersih dalam proses pembacaan diri. Sebuah doa merupakan pengantar penyempurnaan kehidupan higenis, agar senantiasa sehat dan juga afiat. Sehat berkaitan dengan energi fisik dan afiat berkaitan dengan energi spiritual. Memang tak seluruh orang yang cerdas bisa sehat secara fisik dan afiat secara pikiran. Doa-doa anti ‘hubuis’ dan ‘habais’, masih memberi peluang besar agar orang cerdas juga bisa afiat dalam kesakralan pikiran.

Sementara ada juga orang cerdas yang memiliki anomali dalam pikirannnya, sehingga apa yang termaktub dalam area refleksi “perenungan”-nya selalu tak selaras dengan kecerdasan normal dan kepintaran generik yang dimiliki semua orang cerdas secara umum. Mereka yang pikirannya tidak generik ini, sering kali bukan merupakan produk dari pikiran lingkungan sekitarnya. Ia juga memiliki jangkauan futuristik yang melampaui suatu zaman yang dihadirinya. Ia memiliki konsep pemikiran yang berasal dari ‘lingkungan yang tak berkeberadaan’.

Itulah sebabnya banyak pemikiran mereka, tak bisa dipahami oleh arus pikiran normal dan standar intelektualitas di zamannya. Mereka ini sering dijuluki ‘gila’, ‘majnun’, ‘mad’ atau berbagai istilah yang menunjuk pada arti yang bersinonim dengan ‘kegilaan yang tak tercerna oleh teori akademis’. Sedangkan kegilaan yang bisa didata secara akademis, mulai terwujud ketika ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ yang berada di WC melakukan sikap ‘Wait and Cheat’ (menunggu dan menipu) siapa pun yang sedang membuang hajat. Duet setan ini menunggu dan menipu para pembuang hajat, yang tak turut serta membuang kekotoran pikiran dan hatinya. Kegilaan karena hasutan atau provokasi ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ bukanlah sesuatu yang pantas direnungkan, tapi diperbolehkan untuk disesali.

Kegilaan seperti paranoid, psikosis dan skizoprenia bisa diusut dan diteliti dari sikap orang-orang yang melakukan ritual buang hajat. Penelitian terhadap ritual sosial buang hajat, agak susah dilaksanakan sebab siapa yang mau diteliti sikapnya pada saat hendak buang hajat. Penelitian itu akan lebih kerepotan lagi bila dipasang ‘candid camera’, ‘hidden camera’ atau kamera CCTV di lokasi internal WC, sebab telalu kelewatan melanggar privasi. Malah pelakunya bisa terlibat dalam ‘candid camera XXX’ sebagaimana yang terjadi pada artis-artis Indonesia Ayu Azhari DKK.

Paranoid, psikosis dan skizoprenia yang timbul dari zona WC, sampai sekarang belum pernah diteliti secara intensif. Ayu Azhari dan beberapa artis Indonesia pernah mengalami ‘paranoid temporer’ ketika memasuki ruang-ruang WC untuk berganti kostum. Mereka paranoid karena mengira setiap WC untuk ganti kostum, sudah dipasang candid camera. Jika artis Indonesia yang memang menjual keindahan tubuhnya untuk konsumsi ‘mata jalang publik’ (lihat : Ayu Azhary dalam sampul ‘Play Boy’ Edisi Indonesia, yang buah dadanya berharga satu Milyar Rupiah) mengalami paranoid di zona internal WC, tentu kalangan non-artis akan mengalami paranoid yang lebih parah bila anatomi tubuhnya tertangkap oleh ‘candid camera’.

‘HUBUIS’ NOT FOR GENTLEMAN ANDHABAIS’ NEITHER FOR LADIES

Setan ‘Hubuis’ tak memenuhi aturan untuk hanya memasuki WC yang tertulis “gentleman, laki-laki dan gambar simbol laki-laki”. ‘Habais’ juga tak akan hanya memasuki WC yang tertulis “ladies, perempuan dan gambar simbol perempuan yang mengenakan rok”. ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ menafikan tulisan dan simbol semacam itu, lalu memasuki WC sesuka-sukanya. Dalam peradatan setaniyah, tak boleh ada peraturan yang tak boleh di langgar, apalagi itu hanya peraturan manusia yang memang hanya ditujukan untuk manusia pengguna WC. Setan berani tak mentaati perintah Tuhan, maka peraturan manusia di pintu WC juga boleh dilanggar oleh ‘Hubuis’ dan ‘Habais’.

Secara paralel di seluruh dunia, ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ bertugas secara bersama-sama di setiap WC yang tak terbacakan doa-doa. WC yang bersih dan luks yang penggunanya tak melafalkan satu pun bait doa, sering digunakan para setan sebagai lokasi gaul ‘WC night Party’. WC yang kotor dan bau bisa membuat ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ tak betah menjalankan ritus rutin, sebab yang pengguna mau digoda dalam jerumusan ‘dosa-dosa ampas’, juga enggan menggunakan WC tersebut.

WC yang kotor, jorok dan bau bertahun-tahun terjadi hampir di seluruh WC Universitas Hasanuddin. Mahasiswa yang agak paradoks kapasitas iman dan takwanya pasti tak sempat membaca doa-doa anti ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ dan menggantinya doa-doa idealisme yakni “ya Allah selamatkan kami dari rektor dan pembantu rektor maupun dekan dan pembantu dekan yang tak becus mengurus WC.” Bagi mereka, rektor dan pembantu rektor maupun dekan dan pembantu dekan, jauh lebih berbahaya dari sindikat setan-setan ‘Hubuis’ dan ‘Habais’. Pembaca doa-doa Idealisme biasanya kaum demonstran, aktivis mahasiswa kritis dan pengguna WC yang beraliran ‘perennial Idealispiritual’. Mayoritas mahasiswa yang agak paradoks iman dan takwanya, bukanlah golongan ‘ladies and gentleman’.

SINEMATOGRAFI CANDID CAMERA DAN ‘URBAN CULTURE’ VERSI ‘HUBUIS’ DAN ‘HABAIS’

Selain melindungi diri dalam rangkaian doa-doa, para pengguna WC harus juga berhati-hati pada ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ berbentuk manusia, yang memiliki keahlian sinematografi ala ‘candid camera’. Proyek sinematografi amatir dari personifikasi ‘Hubuis’ dan ‘Habais’, telah membuat artis-artis dan gadis-gadis non-artis memasuki ‘sinematografi kilasan pornografi’ dalam ‘candid camera’.

‘Hubuis’ dan ‘Habais’ berbentuk manusia bukanlah tipe ‘gentleman’ dan ‘ladies’, yang memiliki aturan dan disiplin tersendiri terhadap ketelanjangan di area ekstra rahasia seperti WC. ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ dalam metamorfosa jin, arwah gentayangan dan manusia, sama-sama berbahaya bagi kerahasiaan diri seseorang di sekujur kulitnya. ‘Hubuis’dan ‘Habais’ dalam metamormosa jin dan arwah gentayangan bisa diusir sejauh satu putaraan terbenamnya matahari hanya dengan sejumput doa-doa. ‘Hubuis’dan ‘Habais’ dalam mtamorfosa manusia, susah diusir dengan doa-doa tapi perlu ditangani dan ‘dikakii’ lewat tindakan satpam, bodyguard dan polisi.

‘Hubuis’ dan ‘Habais’ yang bertubuh manusia, kebal pada doa-doa apa saja yang tak disertai dengan dengan sedikit gertakan satpam, bodyguard dan polisi. ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ yang berwujud sebagai kurator seni seperti Jim Supangkat memperbolehkan pertontonan sekujur ornamen dan segenap relief tubuh hingga ke akar pori-porinya, dalam suatu pameran kebudayaan dan atas nama seni. Replika ‘Hubuis’dan ‘Habais’ berbentuk manusia dapat berupa artis Anjasmara dan Isabell yang mempertontonkan ‘ketelanjangan berbudaya’ di pameran ‘Urban Culture’.

Nudisme dalam bentuk seni, justru perlu FPI (Front Pembela Islam) untuk turun tangan menghadapinya, karena organisasi Islam lainnya terhambat kesadarannya untuk memahami nudisme di wilayah publik Islami. Hambatan itu diperparah oleh ketiadaan defenisi pornografi dan pornoaksi yang sampai sekarang belum terakui dalam konsensus akademis dan istilah hukum Indonesia. Kelambanan organisasi Islam menghadapi proyek ekspresi kultural nudisme urban, karena memang kebanyakan ummat Islam gagal menghadapi ‘Hubuis’dan ‘Habais’ di WC masing-masing.

Ketika menghadapi setan dari kalangan artis, banyak juga ummat Islam terpesona dalam aliran fantasi, syahwat dan keterpesonaan dalam ‘sindrom Aresian dan Venusian’ (Sindrom pemujaan pada kejantanan dewa perang Ares dan dewi seksi Venus). Fantasi, syhawat dan sidrom itu makin menemukan pembenaran peradaban kebudayaan urban, karena terbalut dalam ekspose kebebasan ekspresi seni. Zinah mata akibat menatap pameran nudisme urban, tak bisa terhindari dalam wilayah kapitalissi seni moderen dan posmo. Hampir-hampir setiap menit, mata kaum Muslim berada dalam ‘zinah majemuk’, sebab nudisme total dan semi-nudisme sudah menjadi kejamakan modernisme kehidupan.

‘Sindrom Aresian dan Venusian’ akan muncul diketiba-tibaan bila sedang terkurung dalam tontonan laju seni urban yang merayap di supermarket, hypermarket, televisi, cinema, majalah maupun iklan dan apa saja. Bila sindrom itu muncul, hampir-hampir tak ada doa yang bisa menjadi tameng untuk terhindar dari ketiba-tibaan itu. Tanpa doa setitikpun, maka setan tak kan terlalu berkeringat di ruang AC untuk menggoda orang-orang yang kerasukan ‘sindrom Aresian dan Venusian’.

EKSPOSE KELAMIN PADA LABEL KAPITALISASI ESTETIKA NUDISME

Modernisme dan Pos-Modernisme inkarnasi replika ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ pada sosok manusia, telah menjadi satu sumber keterasingan baru atas etika agama dan moralitas sakral dari panduan wahyu Tuhan. ‘Ladies’ dan ‘Gentleman’ yang bersintesa atau sekaligus menjadi replika ‘Hubuis’ dan ‘Habais, bukan lagi penanda jenis kelamin di suatu WC. ‘Ladies’ dan ‘Gentleman’ berubah sebagai sosok pameranisasi ekspose kelamin yang diberi label kapitalisasi estetika nudisme. Para mahasiswa Islam kebanyakan juga memamah biak pornografi dan pornoaksi dalam berbagai aktivitas remang-remang dan terang-terangan di kamar-kamar kost. Dalam ‘kemunafikan yang manja’, mereka sesekali juga ikut berdemonstrasi menentang dan membakar majalah/tabloid Play Boy edisi Indoensia, sedangkan Play Boy edisi Amerika tersimpan dengan baik dalam lemari pakaian dan di balik bantal.

Ladies’ dan ‘Gentleman’ berada di tempat terhormat sebagai pampangan tulisan yang membedakan dua jenis WC untuk dua jenis kelamin ‘woman and man’. Moralitas pemuliaan dan penghormatan tubuh manusia telah turun ke taraf kekotoran seperti halnya membuang gas kentut, kencing atau tinja. Kekotoran moralitas ekspose kelaminasasi itu, tetap dihargai demi supremasi kebudayaan, kapitalisme seni dan kebebasan pers maupun untuk tuntutan ilmu pengetahuan Moderen/Pos-Moderen.

Ladies and gentleman’ sebagai sebutan bagi pemuliaan manusia dalam konteks bahasa Inggris akhirnya hanya terpakai sebagai demarkasi jenis kelamin untuk buang hajat. Bagi ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ demarkasi jenis kelamin itu tak punya kekuatan apa-apa terhadap mereka yang kebelet membuang hajat. Tanpa satu pun kekuatan spiritual dalam doa-doa di markas setan-setan tinja tersebut, ‘Ladies’ dan ‘Gentleman’ tak lebih kotor dari kenajisan abadi ‘Hubuis’ dan ‘Habais’.

MODERNITAS DAN POS-MODERNITAS ‘HUBUIS’ DAN ‘HABAIS’ DI INDONESIA

Kekotoran birokrasi Indonesia zaman ini, merupakan perluasan modernitas dari kenajisan ruang kerja ‘hubuis’ dan ‘habais’. Indonesia sudah hancur dari segi moral birokrasi, pemerintahan, parlemen, aparat polisi, militer, pemuka agama, intelektual, mahasiswa, aparat kehakiman dan kejaksaan maupun semua komponen bangsa. Mereka yang mungkin bisa terhindar dari ‘Hubuis; dan ‘Habais’ ini tentulah intelektual yang tercerahkan secara spiritual, yang masih sanggup membaca diri sendiri mulai dari ‘Bab Kamar Belakang’.

Intelektual yang terbebas dari kekotoran zaman edan ini, pastilah memiliki kebebasan najis akibat ronrongan ‘Hubuis’ dan ‘Habais’. Bila intelektual belum bebas dari ‘kejahatan internal’ yang meronrong energi spiritual dari balik ‘Bab Kamar Belakang’, maka setan-setan lainnya akan makin mudah menjerumuskan kaum intelektual/cendekiawan yang sudah terbangun dari tidurnya.

Intelektual/cendekiawan kritis merupakan pembaca yang tak butuh lagi ‘Kata Pengantar’, ‘Avant Provos’, ‘Pendahuluan’, ‘Mukaddimah’, ‘Prolog’ dan ‘Pembukaan’ untuk memahami semua isi semua bab suatu buku. Tanpa kebutuhan akan basa-basi ‘Kata Pengantar’, seorang intelektual kritis bisa langsung membaca dirinya sendiri dari ‘Bab Kamar Tengah’ hingga di ‘Bab Kamar Belakang’. Intelektual/cendekiawan berada di zona krisis bila sudah tak sanggup membaca doa apapun, bila telah mencapai pintu ‘Bab Kamar Belakang’.

Krisis kaum intelektual/cendekiawan akan makin berat, bila ia hanya menjadi ‘pembaca yang sukses’ untuk suatu ‘Pendahuluan’, ‘Kata Pengantar’ dan sejenisnya. Pemikiran intelektual bisa tercederai dari segi spiritual bila meremehkan kekuatan godaan ‘setan Diploma Satu’ yang berfakultas di ‘Bab Kamar Belakang’. Bila kaum intelektual gagal membaca dirinya sendiri dalam perlindungan doa-doa di ‘Bab Kamar Belakang’, maka sia-sia pulalah pembacaan semua pengetahuan di ‘Bab Kamar Depan’ dalam bentuk ‘Pendahuluan’ dan ‘Kata Pengantar’.

Sosok Intelektual/cendekiawan kritis tertipekan sebagai pembaca yang mampu memulai keintelektualannya dengan keselamatan spiritual dari ‘Bab Kamar Belakang’ atau ‘Pintu Halaman Akhir’. Kecerdasan yang terbebaskan dari godaan setan ‘Hubuis’ dan ‘Habais’, tentulah dapat menghindari diri dari kekotoran ‘limbah pikiran’, ‘tinja mental’, ‘ampas emosional’ dan ‘tahi spiritual’. Demi kehendak mencapai ‘kecerdasan yang terbebaskan’ sebaiknya berhentilah selalu mulai membaca dari ‘Bab Kamar Depan’, ‘Halaman Pertama’, ‘Avant Provos’, ‘Bab Satu’, ‘Pendahuluan’ maupun ‘Kata Pengantar’

PEMBACAAN PATERNALISTIK, KESALAHAN PENGGUNAAN “PENA” DAN “TINTA” PADA KARAKTER BANGSA INI

Membaca karakter bangsa ini sudah merupakan bacaan kesesatan umum, salah satunya (baca: sudah satu yang salah) yakni tentang pembacaan karakter bangsa ini dari sistem paternalistik. Pada sistem paternalistik, mereka yang disebut ‘Bapak’ dijadikan sebagai bukti acuan moralitas, penghormataan dan pemuliaan. Para ‘Bapak’ berupa sosok pejabat negara, pemuka agama, cendekiawan, birokrat eselon atas, petinggi militer dan sebagainya, dijadikan satu polar tunggal dalam melihat penilaian berbagai segi. Jika moralitas kaum bapak ini rusak, maka rusak pula moralitas orang-orang yang menjadi ‘anak-anak’ atau yang lebih rendah statusnya dari ‘kasta sang pater’ itu.

Pembacaan ‘Halaman Pertama’ atau ‘Bab Satu’ dari sistem paternalistik, menjadi limpahan-ruah demoralisasi birokrasi seperti korupsi dan variannya di segala bidang. Jika ‘Sang Bapak’ korup, maka ‘anak-anak’ yang berwujud sebagai anak buah, anak bawang, anak murid dan anak papi, pasti juga korup. Jika guru kencing berlari, maka murid kencing balapan. Guru yang kencing berlari, akan didampingi ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ yang juga ikut menghela napas kuda. Murid kencing balapan, akan disertai pula ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ yang berlari pula pada akselerasi pemecahan rekor.

‘Kencing berlari’ dan ‘kencing balapan’ seperti itu tentu harus dalam konteks ‘Off-WC’ (di luar wilayah WC). Harus ada do-doa baru atau ‘doa-doa biddah’ untuk dipakai pada guru yang kencing berlari dan murid yang kencing balapan, yang terjadi di luar zonasi WC. Protip ‘bapak guru’ dan ‘anak murid’ yang susah mengurus kencingnya, persis sama dengan sistem paternalistik yang susah mengurus ‘kebapakannya’ dan ‘keanakannya’. ‘Bapak’ yang korup dijadikan pantulan cermin oleh ‘anak-anaknya’ untuk menjadi korup pula. Korupsi itu tersimbolkan dalam bentuk konotasi kencing sembarangan dan menyebarkan bau pesing dimana-mana.

‘PROGRAM KENCING’ GURU DAN MURID HINGGA PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN

Guru dan murid yang susah mengurus ‘program kencing’, berarti akan melakukan perbuatan najis lainnya secara gampang. Korupsi menghasilkan harta najis yang berbau pesing keharamannya dan merusak tatanan moralitas paten lainnya untuk menjadi kesatuan praktek keharaman. Pada korupsi, kita “menutup mata” dalam melihat prakteknya, sedangkan pada praktek kencing sembarangan, kita “menutup hidung”.

Seharusnya bukan mata dan hidung yang ditutup, tapi sumber kekotoran dan kenajisan itu yang ditutup. Warga bangsa yang bobrok ini lebih memilih menggunakan tangan untuk melakukan perluasan kekotoran dan kenajisan. Tangan yang memperluas kekotoran dan kenajisan digunakan pula untuk menutup ‘efek buruk pemandangan’ dan ‘efek busuk bebauan’ itu di kantor polisi, kejaksaan dan kehakiman. Jika ‘tangan hukum’ digunakan menarik kerah putih pelaku koruptor untuk diseret di lapangan tembak atau penjara seumur hidup, maka tangan itu tak perlu dipergunakan untuk menutup mata dan hidung.

Organ bapak/guru dan anak/murid yang dipakai untuk kencing bagaikan “pena”, sedangkan air kencing itu bagaikan “tinta”. Pembacaan tentang karakter sejati sang bapak/guru dan si anak/murid, dapat diketahui pada apa yang dituliskan melalui properti biologis berupa “pena” dan “tinta” yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Apa lagi yang bisa ditulis secara baik dalam bentuk etika, moralitas dan keteladaan, jika sang guru “menulis” sambil berlari dan si murid melakukannya sambil balapan? Semua kertas akan susah ditulisi sebab akan terlanjur hancur, basah kuyub dan rusak berkeping lumat.

Jika bangsa ini terus menerus membaca dirinya dari ‘Halaman Pertama’ atau ‘Bab Satu’, maka akan kesulitan jika harus membaca diri dari ‘halaman belakang’, ‘Kamar belakang’ atau ‘Halaman terakhir’ yang bernama WC. Korupsi akan terus terbaca di buku sejarah hitam bangsa ini hingga di halaman terakhir, sebab memang begitulah yang tertulis dari “pena” dan “tinta” yang dipakai oleh ‘simbol paternalistik guru dan murid’.

Suatu hari sewaktu menjabat Wakil Presiden RI, BJ. Habibie berkomentar, “Pak Harto, guru besar saya dalam bidang politik!” Nach, apakah politik yang dimaksudkan BJ. Habibie sama seperti ‘praktek kencing’ antara guru dan murid atau antara presiden dan wakil presiden? Tentu bila politik bersinonim dengan kencing, akan banyak WC umum yang akan dibangun, lalu seperti biasa proyek WC jadi lahan korupsi berbau pesing. Bau pesing ini tetap dilanjutkan oleh para yunior Orba seperti SBY-JK, cuma antara keduanya tak terlalu jelas siapa yang guru dan murid?

TAK ADA ‘BCDFHIJLMOQSUVWXYZ’ PADA ‘KATA PENGANTAR’

Jangan pernah membuka pintu area kecerdasan dalam pembacaan suatu buku dengan membukanya melalui ‘Kata Pengantar’, alasan pertama yakni tak ada ’BCDFHIJKLMOQSUVWXYZ’ pada ‘Kata Pengantar’. Kita tak bisa membuka pikiran bila kehilangan ’18 alfabet’, sedangkan ‘Kata Pengantar’ hanya memiliki ‘8 jenis alfabet’ yang kemudian bersekutu membentuk dua susunan kata. Tak mungkin pikiran bisa terbuka kritis hanya dengan berbasis pada ‘8 alfabet’ belaka.

Bila pikiran terbuka, maka pikiran itu tak terbebas dari tirai kertas pembatasan, demi mendalami suatu pembacaan. ‘8 alfabet’ yang bila ditulis secara vertikal, sama sekali tak terlalu tinggi susunannya bila dilihat dari bawah. Susunan alfabet itu tak akan terlalu dalam, bila dilihat dari atas. Mungkin dibutuhkan alasan kedua, ketiga atau hingga kesepuluh untuk meyakinkan betapa tak berharganya pembacaan suatu buku yang dimulai dengan ’Kata Pengantar’. Jika memang hendak membuka suatu bab, seorang pembaca yang hendak tercerdaskan, hanya perlu ‘alasan pertama’ untuk tak lagi peduli pada ‘Kata Pengantar’.

MENGEJA ALFABET DENGAN MEMBACA ANGKA

12345’B’789101112’A’1314151617’C’181920’A’21212324’’L252627’A’282930’H’313’D’2333435’E’36338’N’3940’G’41’A’42’N’43’N’4445’A’4647’M’484950’A’5152535455’T’5657’U’5859’H’6061’A’6263’N’646566667’M’6869’U’7071’Y’72’A’73’N’7475’G’7677’M’778’E’7980’N’81’C’8283’I’8485’P’8687’T’88899091’A’9293’K’949596’A’979899’N’100101102102103104105106107108109110111112113114

Bagi yang ingin mengeja alfabet dan membaca angka, al-Qur’an mengajarkan umat Islam suatu peradaban pengetahuan yang dimulai dengan membaca dan harus membaca (lihat: Surat 96/Al-Alaq ayat pertama). Secara literal jumlah keseluruhan yang harus dibaca adalah 114 surat)

Iklan

11 Tanggapan to “ostafologimatikiri 1”

  1. ostafologi Says:

    Peran hukum adat dalam era otonomi daerah. Sejak berlakunya otonomi daerah, hukum adat hampir tak punya taring, dracula ompong! Malah pelan pelan yang bergeser adalah adat itu sendiri. Metode desentralisasi, sama sekali tak memiliki peran banyak untuk membantu menahan laju globalisasi, yang telah menyentuh wilayah kesadaran berpikir. Parahnya, kebudayaan terus bergeser menuju jurang konsumerisme. Bagaimana pendapat Abang mengenai Situs Ekologi Kajangisme, terkait hal ini? Apakah akan mampu bertahan di tengah arus indusrialisasi?

  2. ostafologi Says:

    Pesan dikirim oleh jie_ghost@yahoo.co.id, untuk diskusi mengenai Hukum Adat Kajang?

  3. salam hangat selalu
    terus berjuang dan semangat ba

  4. abdul Taba Says:

    salah satu perseps pandangan dunia yang didukung oleh para penguasa tiran adalah segala sesuatu telah ditakdirkan oleh Tuhan. Patalis orang istilahkan. Dalam Islam dikenal dengan nama jabariah, keterpaksaan.Pandangan dunia ini melahirkan sikap bermasa bodoh dan malas. Pandangan dunia ini tidak pernah melahirkan manusia manusia kritis terhadap penguasa. karena dalam benak mereka telah tertanam atau tepatnya ditanamkan bahwa Muawiyah ataupun anaknya Yisid yang kejam itu telah Tuhan Takdirkan sebagai penguasa atas orang-orang beriman. Karena telah ditakdirkan, maka siapapun yang melakukan kritikan atau perlawanan terhadap kekuasaannya, berarti dia telah melawan kehendak Tuhan yang Agung.Sehingga banyak yang salah persepsi terhadap perjuangan Imam Husain AS. Banyak orang yang mencap Imam Husain Sebagai pemberontak atas penguasa yang Tuhan telah tetapkan sebagai wakilnya Di Bumi.Imam Husain punya pandangan dunia yang berbeda dengan para penguasa kejam. Imam Husain telah mempersembahkan darah dan nyawanya yang mulia. Dia menjadi Martir bagi seluruh martir. Penghulunya para penghulu para Syahid.

    Menurutku terkadang satu persepsi tentang dunia memang terkadang mendominasi bahkan memonopoli. dan jika itu sangat mendukung status quo, maka penguasa bersama antek-anteknya akan mendukung persepsi tersebut. kalau perlu memaksakan dengan segala cara agar persepsi terhadap pandangan dunbia tersebut diterima oleh semua kalangan. Suka atau tidak suka.
    banyak para penguasa yang melakukan hal tersebut.
    dalam sejarah islam pun para penguasa yang mengklaim wakil Tuhan di bumi akan melakukan penindasan kepada orang atau sekelompok orang yang berbeda persepsi dengan kekuasaan mereka.
    termasuk saya kira penguasa orde lama dan baru dengan sosok soekarno dan soeharto yang belum lama ini kita tumbangkan bersama.
    saya setuju dengan apa yang bang Ostaf katakan. kita perlu banyak persepsi untuk memendang dunia ini. agar kita semakin bijak dalam bersikap terhadap dunia luar dan diri sendiri.

  5. ostaf al mustafa Says:

    Ada pandangan dunia yang jauh lebih melesetologis (meleset tapi dianggap logis) dan lebih jungkir balik dalam tinjauan tentang Jabariah (atau bisalah kita anggap sebagai Fatalisme era Islam). Pihak Salafi atau Sunni ortodoks menyatakan Jabariah itu sesat. Uniknya pada pandangan sejumlah buku atau situs-situs salafi, terdapat dukungan pada Muawiyah atau Yazid. Ketika Imam Hasan a.s. (yang kemudian mati karena usus bocor, yang penyebabnya sejenis racun arsenik) menyerahkan kekuasaan pada Mauwiyah, maka tahun itu disebut Tahun Jamaah atau tahun persatuan ummat Islam. Tahun itu mendinginkan gurun-gurun peperangan setelah terjadi perseteruan, perang sipil dan konflik berdarah antara Alawiyyin (pengikut Imam Ali karamallahu wajh) dan pihak pendukung Muawiyah. Dalam sejumlah teks yang bisa dibaca dalam situs-situ Salafy, dapat diambil kesimpulan bahwa Muawiyah dan anaknya sama sekali tak dinyatakan bersalah. Yazid bahkan terlepas dari peristiwa pembunuhan tragis terhadap Imam Husein a.s. di Karbala.Jabariah berada dalam suatu konsep yang setuju bahwa siapapun yang berkuasa, itulah pemegang kebenaran dan tonggak sejarah.Jabariah merupakan paham yang sengaja menempatkan kekuasaan Allah SWT, persis seperti kekuasaan penguasa tiran. Lebih tepatnya, kekuasaan penguasa tiran disamakan secara absolut dengan kekuasaan Tuhan. Dalam pandangan Jabariah, kekuasaan tak boleh tergoyahkan oleh rakyat dan penguasa bebas membuat hukum yang sama sekali tak bisa menyentuh kulit kekuasaan mereka. Jabriah tentu saja mengunggulkan Muawiyah dan Yazid, sebagai penguasa yang selalu harus benar. Pandangan itu tentu saja harus demikian, karena mereka memang didukung penguasa. Ketika Muawiyah mendapatkan kekuasaan dan kemudian diwariskan kepada Yazid tanpa baiat terhadap ummat, maka kedua penguasa ayah dan anak itu, yang memegang kjebenaran sejarah. Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husein, tertulis dengan sejarah yang penuh tuduhan dan kesalahan. Mengapa Sejarah ditulis dengan melesetologisme dan mengagungkan penguasa. Apa yang terjadi dalam sejarah lampau, tidak bisa dibaca hitam dan putih, meskiupun kerats itu putih dan tinta itu hitam.Sejarah selalu dikendalikan oleh penguasa tiran, penulis sejarah yang senang status quo dan pembaca yang senang pada suatu idiom, “the ruler can do no wrong” (penguasa tak pernah salah).

  6. abdul Aziz Taba Says:

    Menurutku terkadang satu persepsi tentang dunia memang terkadang mendominasi bahkan memonopoli. dan jika itu sangat mendukung status quo, maka penguasa bersama antek-anteknya akan mendukung persepsi tersebut. kalau perlu memaksakan dengan segala cara agar persepsi terhadap pandangan dunbia tersebut diterima oleh semua kalangan. Suka atau tidak suka.
    banyak para penguasa yang melakukan hal tersebut.
    dalam sejarah islam pun para penguasa yang mengklaim wakil Tuhan di bumi akan melakukan penindasan kepada orang atau sekelompok orang yang berbeda persepsi dengan kekuasaan mereka.
    termasuk saya kira penguasa orde lama dan baru dengan sosok soekarno dan soeharto yang belum lama ini kita tumbangkan bersama.
    saya setuju dengan apa yang bang Ostaf katakan. kita perlu banyak persepsi untuk memendang dunia ini. agar kita semakin bijak dalam bersikap terhadap dunia luar dan diri sendiri.

  7. Budi Hartono Hartono Says:

    Assalamu’alaikum, Bang.
    Salam kenal dari saya, lama alamat emailnya saya cari akhirnya saya dapat.
    Bagaimana Kabar bontang ni Bang, Mudah-mudahan Baik-baik dan sejuk.
    Kutip Perkataan Syed Naqub Al-Attas. “Alam Bukanlah dilihat dari bentuk geografinya dan keindahan. tetapi membaca karunia Tuhan Yang maha besar”, kurang lebih demikian. Saya Turut berduka Atas Kepulang Kawan kita Ismet. Inalillahi Wainnalilahi Roji’un. amal dan ibadahnya semoga menjadi pertimbngan Allah. Oya bang, sebagai perkenalan ni saya coba buka dengan diskusi milis ni bang. Makam yang kalau dalam islam adalah manifestasi ilmu Din yang kemudian lahir dari latihan kedisiplinan, dimana ilmu membuka tabir kebekuan manusia, mengangkat kebodohan, memuliakan manusia. hanya setan saja yang iri dengan manusia karena dia memang ditakdirkan untuk jadi kayu bakar. pertanyaan kemudian bagaimana dengan orang, yang mengaku sebagai manusia yang hidup bernapas dan pasti mati. sementara makana kematian itu lahir dari konsep keagaan. kebali kependapat Plato yang disederhanakan oleh Sayed Naquib Al-Attas bahwa manusia datang untuk mencari jalan sempurnnya itu setelah melakukan perjanjian pra eksistensi manuasi. bukankah itu makana dari penciptaan manusia, bagaimana dengan mereka yang melangar ketentuan tersebut, tidak sholat, tidak puasa dan tidak menikah. nabi kita mengajarkan hal tersebut (maaf ini bukan kalimat mengurui). bukan kah ini yang disebut form dalam islam. bukankah kata Da’wa yang hari ini membangun peradaban yang namnya islam dan barat menjadi penguasa dunia. lahir dari form nya masing-masing keunikan masing-masing. islam bukan ibah dlam hati dan ibadah dalam akal (dia nampak dalam kehidupan kita). G.W.Bush bukan islam meskipun dia bercerita tentang islam hafal al-quran dan matan hadist. tetap dia seorang kafir zindik, dia bukan islam abu-abu, atau islam Fobia tetap kafir. Ketika Ucapan Ashaduannlaillahaillah washaduannamuhammadarasullullah, menjadi pegangan secara hirarki hukum islam itu menjadi pegangannya baru lah dia islam.islam kehendak Allah dan siapa saja yang dikehendakinya pasti sesuai dengan apa yang di emban hambnnya olehnya tidak ada paksaan “lakukmdinukum waliaddin” salam kenal bang lebih dekat.
    Abdul Khalik Ibnu Hussain. Aggota UKPM-UH angkatan…12, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UH 01, pidahan 2004. Motto: Commited To the Truth, Hidup Untuk Islam dan Mati untuk Islam.

  8. ostaf al mustafa Says:

    Jawaban untuk Abdul Khalik Ibnu Hussain. Aggota UKPM-UH angkatan…12, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UH 01, pindahan 2004. Setan dan manusia sama-sama statusnya, saat kedua makhluk itu ‘bebas tes’ masuk neraka. Bukan hanya setan yang diciptakan untuk menjadi kayu bakar, tapi manusia juga demikian. Istri Abu Lahab yang disebut sebagai “pembawa kayu bakar” alias tukang fitnah terhadap Rasulullah SAW, juga telah menjadi kayu bakar neraka. Ia membakar dirinya sendiri dan juga membakar manusia-manusia yang selevel dengan dosanya.

    Dalam soal iri, jangan terlalu menjadikan setan sebagai biang dari keirian. Ia memang iri, karena ALLAH SWT menjadikan Adam sebagai khalifah, sebuah rasa iri yang terbentuk karena hasrat berkuasa. Siapapun manusia itu, kalau memiliki hasrat berkuasa, bisa bersekutu dengan setan yang mengalir dalam pembulu darahnya. Betapa rasa iri, telah menghancurkan nilai ibadah Azazil (nama pemimpin jin Ifrit), hingga akhirnya disebut sebagai iblis (ablasa, sang pembangkan perintah Allah SWT). Seharusnya malaikat -yang pernah berada dalam satu shaf dengan Azazil- memiliki rasa iri, dalam momentum ‘Namiyah’. Apa yang dialami oleh para malaikat ketika mempertanyakan keberadaan Adam, jauh lebih keras efeknya daripada ketika Iblis menolak bersujud atau menghormati Adam. Dalam momentum “Namiyah’, Allah SWT menguji kemampuan para malaikat dan Adam dalam menyebut nama-nama benda. Malaikat secara aklamasi mengaku tak tahu menahu tentang ‘Namiyah’, karena memang belum diberi pengetahuan tentang hal tersebut. Adam yang sudah diinstal dengan ‘software Namiyah’ (‘The Names’ atau ‘Pengetahuan Bernama’), tentu saja dapat menyebut semua benda dengan tepat.

    Harusnya resiko iri yang dialami malaikat jauh lebih tinggi daripada apa yang dialami Azasil. Dalam peran yang serba suci, malaikat ternyata tak punya rasa iri apapun, malah mengakui kelemahan diri sendiri, yang tak diberi pengetahuan Namiyah itu. Azasil cuma diminta bersujud dan tak diberi pertanyaan apapun juga. Azazil membangkang pada Allah dan iri pada Adam, maka terlaknatlah jin spesies Ifrit itu. Dalam konteks duaniwi dan manusiawi, dapat dibuat perbandingan bahwa sebuah pertanyaan jauh lebih berat daripada hanya sekedar menerima perintah. Kita menjadi mahasiswa atau menjadi bibliomania, agar mampu menerima berbagai pertanyaan dan sekaligus memberi jawaban. Bila kita tak memiliki ilmu secara spesifik, maka hanya menanggung berbagai perintah demi perintah. Masalahnya yakni sang pemberi perintah itu, mulai juga bermain sebagai Tuhan (playing god), sehingga bermetamorfosa menjadi thagut. Sekarang ini mahasiswa yang mampu melakukan resistensi pada kekuatan thagut di pemerintahan dan rektorat, berarti melawan orang-orang yang bermain sebagai Tuhan. Uniknya pemeran ‘Tuhan’ itu, juga berperan sebagai iblis, karena sikap-sikapnya yang tak mau tunduk pada kebenaran. Bagi sang penguasa thagut, kebenaran hanya ada bila orang-orang mau tunduk dalam perintahnya. (bersambung….)

  9. Budi Hartono Hartono Says:

    Assalamu’alaikum.Bang

    Antara Idealisme dan Perasaan.(milisnya diberi judul bang)
    Bukunya Kang Jalal, yang judulnya Reformasi Atau Rekayasa Sosial. Sampul merah bukunya agak kecil. Katanya demikian, salah satu kesalahan berpikir adalah mengambil alasan untuk suatu pembenaran, artinya ketika ada satu larangan dalam perbuatan, ketika itu diungkapakan dalam Al-Quran Haram. Dan hal itu tidak terdapat dalam magnum opusnya orang islam. Maka itu adalah bentuk dari kesalahan berpikir itu.membenarkan satu alasan untuk mendukung alasan lain yang sebenarnya tidak berdasar. Yang kesekiannya adalah mengeneraliasikan masalah, kalau saya bermaslah dengan seorang wanita atau perempuan alasanya karena saya menyukai dia itu wajar sebab laki-laki normal, tetapi persoalan saya kurang gagah dan ekonomi pas-pasan maka orang yang saya sukai itu, berbalik tidak menyukai saya persoalanya adalah itu tadi, sepengetahuan saya antara dia dan saya saja yang tahu, sementara yang lainya tidak tiba-tiba berita ini muncul ditelevisi (iconisasi), yang sebenarnya ini adalah menyimbolkan orang suci tetap karena artis disini diangap suci maka maknanya berbalik. Inul diangap suci dan wejangannya laku bagi janda-janda dan bungga-bungga kampung. Demikianlah masalah itu hingga inul dianggap artis simbolisasi public. Islam adalah sebuah konsep wejangan yang didalamnya menganut penuturan dan ungkapan bijak sebab makna dan lafatnya langsung dari Allah. Didalamnya islam mengajarkan tentang kerja keras dan menuntu ilmu. Islam punya konsep apa itu halal dan apa itu haram berangkat dari sinilah idelisme islam mengajakan bagaimana mendekatkan diri dengan Tuhan kalau dalam bukunya Ali-Syariati, mendefinisakan bentuk sosialiasi manusia dengan alam dengan Tuhan lingkungannya kata idelisme dibungkus dengan kata (Ummtunwashotah). Permasalahnnya hanya ada pada diri indifidu saja, misalnya saya kalau ada sebagaian dari apa yang dianggap dan tidak sesuai dengan perbuatan itu artinya ada keringann dari Allah sebagi pemasok utamannya. Indifidu tidak tahu menahu tentang hal itu, hingga ini adalah bahasa kehilafan saya. Syed Naqub Al-Attas adalah seorang ahli sufi dari generasinya Imam Ghazali, seorang keturunan Ahlul Bi’it yang murtad, kelahiran bogor 1973. mengatakan indifidu perlu pendipsiplinan diri, demikian ungkapan beliau.
    Perasaan sebagai bentuk penyerahan diri adalah sebuah fitroh manusia, mengikuti sesuatu dan mengkultuskan sesuatu sebagai penyerahan dirinya pada sang Pemberi perasaan (Tuhan),. Hingga alam dijadikan Tuhan (bukan untuk membaca tanda-tanda penciptaanya), manusia dijadikan Tuhan, uang dijadikan Tuhan dan lainya. Disertai dengan Iblis atau setan syatan (musuh) sebagai teman Nongkrongnya. Lanjut lagi kata Naquib Al-attas bahwa pengetahuan, kepercayaan dan pernyataan haruslah disertai dengan kepatuhan dan ketundukan harus diikuti dengan kesediaan dan merendahkan menurut dan melaksanakan perintah. Yang melawan perintah Tuhan pastilah teman dari Iblis, logika sederhana adalah Iblis ciptaan Tuhan dan Tuhan menciptakan Jin dan Manusia Hanya Untuk menyembahnya,Kata Tuhan adalah segalannya pun kalau iblis dibilang Tuhan dialah segalannya. Tetapi Tuhanya orang islam adalah Allahusubhanahu wata’alla. Iblis atau diabolos dalam bahasa Greek Kuno, diabolisme =pemikiran, watak dan perilaku ala iblis. Iblis tidak ateis, apakah dia agnostic tidak. Iblis tidak menginkari adanya Tuhan iblis tidak meragukan wujud dan ketunggalannya iblis bukan tidak kenal Tuhan, ia tahu dan percaya seratus persen, kesalahan iblis bukanya ia tidak Tahu atau tak berilmu karenanya ia membangkang dan menentang perintah Tuhan. Hingga hal itu dikatakan kalau Iblis itu keluar dari islam. Meyakininya dan percaya adalah salah satu bentuk kepercayaan kita terhadap mahluk ciptaannya, pada lefelan iblis hanya mahluk saja. Yakin saja Allah menciptakan Mahluk semacam Iblis ada manfaatnya yaitu sebagai penguji iman bagi umat islam. Memang benar bang, pemimpin saat ini banyak yang tidak berpihak pada rakyat atau orang tertindas, ini kemudian salah satu dari kemunduran perdaban islam. dan Imam Ghazili mereka pun memberikan kritik pada pemerintah saat itu dalam bukunya Thafut alfalasifah dan dikomentari oleh Ibnu Rusdy Tahafut at Tahafut. Pada zamanya, kalau kita lihat pemerintahan kita saat ini, memang kemiskinan dimana-mana belum lagi dengan kapitalisasi pendidikan prifatisasi pendidikan, kalau pendapat Syed Naquib untuk mendiagnosa ini solusinya adalah rombak dunia pendidikan yang dalam konsepnya konsep Ta’dib. Islam adalah sebuah konsep yang kaya nilai, hingga masuk pada wilayah peng islamisasian ilmu pengetahuan. Ini salah satu dari konsep islam yang kita bisa rasakan saat ini. Islam adalah konsep permanent yang sejak muncl kepentas sejarah sudah matang hingga tidak lagi mengalami perobakan atau perubahan,kematangan ini yang kemudian mampu membongkar segalamacam konsep yang datangnya dari peradaban (Civilization), hingga sebagain konsep asing digunakan dalam islam yang bukan lahir dari konsep dasar pemebentukan pandangan hidup islam.
    Buya Hamka pernah berujar, Dalam rekaman kaset, “Ketakutan lawanya adalah perbuatan, berbuat dan berbuat membuat kita berani untuk bertindak hari ini”.
    Khalik.

  10. ostaf al mustafa Says:

    Waalaikum Salam Wr. Wb.
    Maafkan saya yang harus terbata-bata dan tertatih-tatih dalam menjawab dan memberikan tanggapan. Begitu lamanya saya tertatih-tatih dalam mengumpulkan beberapa jawaban dan tanggapan, sehingga baru kali ini kukirimkan balasan. Maafkan atas semua keterlambatan ini, ya sahabatku. Kupikir Kang Jalal juga memiliki kesalahan berpikir yang parah, persis seperti kita yang alami sebagai para pembaca buku-bukunya. Kita menjadi pesakitan dalam pembacaan buku-buku terbaru Kang Jalal, karena terfokus pada suatu pandangan beliau yang bertema tentang “kesalahan berpikir”. Sebenarnya, Kang Jalal juga telah mengalami “Kerancuan dalam berpikir” (fallacy of thinking), karena sekarang begitu sibuk dalam pemikiran pluralisme. Mengapa beliau harus membuat suatu kesibukan berpikir dalam pluralisme, padahal itu merupakan suatu bentuk kampanye provokatif neo-orientalisme? Sekarang kalangan neo-orientalist ongkang-ongkang kaki dengan mengangkat kedua kaki di atas tumpukan buku-buku Kang Jalal. Mereka ongkang-ongkang kaki untuk beristrahat sejenak dalam penyebaran pluralisme. Kalangan neo orientalis perlu beristrahat, karena fungsinya telah dijalankan oleh Kang JalaL. Apa motif beliau, sehingga begitu saja menjebakkan diri dalam ‘fallacy of thinking, even fallacy of thought’? (bersambung)

  11. ostaf al mustafa Says:

    untuk Nuru tentang apa itu lawan dan kawan. LAWAN DARI ‘L’ HINGGA ‘N’
    Sekarang harus ditetapkan secara spesifik tentang siapa yang disebut lawan, karena tak semua hal yang bisa dijadikan lawan, khususnya ‘lawan jenis’. Jika memang ada lawan yang berbeda jenis dengan kita, yang harus dilawan, maka jadikan saja sebagai lawan. Apa perbedaan antara kawan dan lawan? Inilah perbedaan mendasar antara kawan dan lawan “Lawan siapa saja saja yang kau anggap lawan, kalau menang jadikan ia kawan. Bila kawan itu melawan, maka harus kembali dilawan. Kalau lawan yang kau anggap kawan itu menang, maka jadilah sebagai kawannya. Suatu ketika, lawan dia kembali, hingga kau menang dan ia menjadi kawan yang akan juga akan melawanmu!” Kawan dan lawan hanyalah suatu rotasi belaka. Siapa yang menjadi kawan hari ini, bisa jadi menjadi lawan di ‘hari kemudian’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: