Arsip untuk Agustus, 2008

MANUSKRIPSA OSTAFOLOGI MATI KIRI 02

Posted in Uncategorized on Agustus 17, 2008 by ostafologi

MANUSKRIPSA DARI PENCARIAN ALFABET(A) GAMMA
Pada suatu masa ketika berusaha terlibat untuk menjadi atau tidak menjadi (2 B or not 2 B) demonstran, aktivis mahasiswa ataupun aktivis pers mahasiswa di era Orde Baru (Orba). Ada semacam keterpesonaan untuk mendokumentasikan usaha tersebut dalam bentuk manuskrip atau lembaran-lembaran tulisan. Ada berbagai jenis manuskrip yang dihasilkan seperti puisi, karikatur, cerpen, essai, kolom, opini dan juga surat cinta untuk penghuni Sorga.

Saat itu menulis puisi, tidaklah mesti menjadi penyair dan pujangga. Menulis essai, meski tidak untuk menjadi seorang essais. Menulis cerpen, walau bukan untuk harus mencapai penggelaran sebagai cerpenis. Bergiat menulis ‘kolom-kolom langit’, walau tak mesti menjadi kolomnis. Semua aktivitas literatif dilakukan untuk ‘pencarian kesejatian alfabet’ dalam memaknai kata ‘idealisme’, juga demi menemukan sisi ‘alfabet(a) gamma’ (baca: alfa beta gamma) suatu tema kecil idealektika bermahasiswa.

Idealektika adalah penyampaian imaji idealisme dalam trilogi pergerakan yakni ucapan, tindakan dan konsistensi Idealisme. Semua itu adalah bagian untuk menyampaikan beberapa buah pembangkangan, bunga pemberontakan dan tangkai penolakan terhadap kebenaran tunggal Orba. Idealisme dalam versi huruf Hijjaiyah/huruf Arab merupakan “Alif” dan “Ya”. Huruf ‘Alif’ sama dengan simbol ‘Alfa’ atau ‘Yang Pertama’. Huruf ‘Ya’ persis seperti simbol ‘Omega’ atau ‘Yang Terakhir’.

Konsistensi pada Aktivisme pro-Idealisme adalah aktivisme tingkat ‘advance’ dari ‘Alfa’ hingga ‘Omega’. ‘Beta’ dan ‘gamma’, mencitrakan perjalanan riak Idealisme pada ‘kesulitan ekstrim’ dan ‘daya-tahan super’ untuk melakoni Idealisme semasa mahasiswa (on-campuss) maupun konsistensi kontinuitasnya saat berada dalam perjuangan di masyarakat luar kampus (off-campuss).

BIDADARI DI TOKO BUKU, PERPUSTAKAAN, KANTOR POS DAN DINAS INTELJEN
Di antara penulisan manuskripsi terdapat pula ‘Surat Cinta Untuk Penghuni Sorga’. Sebenarnya tak ada data yang pernah terbuktikan dan terkonfirmasikan lewat ‘realita pengalaman’ tentang keberadaan bidadari kecuali dalam toko buku, perpustakaan, kantor pos dan dinas inteljen. Di masa Orba, ada suatu keyakinan bahwa penghuni Sorga semuanya pasti bidadari, yang keberadaannya disembunyikan oleh dinas inteljen. Keberadaan bidadari disangkal oleh agen pemerintah Indonesia, sebagaimana penyangkalan terhadap keberadaan alien oleh pemerintah Amerika Serikat.

Sudah ada kesepakatan dari seluruh lelaki di dunia bahwa bidadari pastilah perempuan. Itulah sebabnya sebagai pengungkapan diri sebagai lelaki yang masih sedikit normal, ada keseriusan untuk segera membuat surat cinta pada bidadari tersebut. Surat cinta untuk bidadari yang harus dikirim melalui kantor pos, harus hati-hati dilakukan, sebab para pegawai kantor pos, kebanyakan juga merupakan agen pemerintah yang yang disumpah untuk mengingkari keberadaan bidadari. Alamat bidadari tak pernah diberi kode pos oleh otoritas kantor pos, bahkan pihak Departemen Dalam Negeri tidak menginjinkan para bidadari memiliki alamat tetap.

Sayang sekali tak ada informasi dari Al-Qur’an, Hadits, cerita Israiliyat/hikayat Judaisme, fatwa ulama, khotbah Jumat dan ceramah pengajian, tentang satu pun nama bidadari. Mitologi Yunani, fairy tale, novel fiksi, sinetron dan dongeng pengantar bobo, memberikan sejumlah nama-nama bidadari, namun tak layak dipercaya kebenarannya. Itulah sebabnya surat cinta dikirim kepada ‘Bidadari Anonim’ dikirim acak ke toko buku, perpustakaan, kantor pos dan dinas inteljen. Siapapun bidadari yang membalasnya, itu sudah cukup untuk menjelaskan romantisme kerinduan dalam hari-hari demonstrasi dan waktu-waktu pergulatan diskusi.

‘KOTA PARA MALAIKAT’ DAN ‘HOME SWEET HOME FOR SWEET FAIRY’
Dalam film “City of Angel” diceritakan tentang para malaikat yang sangat menyukai kunjungan rutin keperpustakaan. New York yang disebut sebagai “kota para malaikat”, ternyata memiliki sarana tempat suci, yang tak berupa rumah ibadah seperti gereja dan sinagog (tempat ibadah kaum Yahudi) melainkan perpustakaan. Jika dihubungkan dengan hadits yang menyebutkan tentang setan yang takut menggoda orang yang berilmu yang sedang tidur, maka film ini memiliki satu ‘tafsir pembenaran’ yakni mereka yang berilmu dijaga dan disenangi para malaikat. Itulah alasan mengapa setan harus takut pada orang berilmu yang sedang tidur, sebab ia selalu dijaga para malaikat.

Orang yang berilmu dan para malaikat memiliki hobi yang serupa yakni mengunjungi “rumah suci” yang bernama perpustakaan atau sama-sama rajin membaca.

Sebuah kota yang memiliki perpustakaan, menjadi menjadi kota yang rutin dikunjungi para malaikat. Kota yang ditinggalkan para malaikat akan menjadi kota setan dan kota horror. Nasib sebuah kota perlu dipertahankan keberadabannya dengan keberadaan sebuah perpustakaan. Tanpa perpustakan, kota akan dikuasai oleh ‘para setan patah pensil’ yang berupa jin kafir dan setan bertubuh manusia. Kota Bagdad, pernah juga menjadi ‘kota para malaikat’ disebabkan adanya banyak perpustakaan yang dimiliki oleh pihak kerajaan dan para individu biblioholik.

Bagdad menjadi kota setan dan inferno (kota neraka), ketika perpustakaan dan buku-buku di bumi hanguskan bersama lelehan tinta dan ceceran darah para penghuni kota. Bagdad mengalami degradsi moral sebagai kota maksiat dalam kekuasaan Dinasti Umayyah, saat itu dinasti tersebut berada dalam puncak peradaban yang memuja materialisme dan ‘cinta duniawi’. Perpustakaan sudah menjadi ajang pesolek kaum kaya dan bukan menambah keyakinan terhadap Islam. Perpustakaan telah menjadi ajang pameran pemujaan kekayaan duniawi para aristokrat dan kapitalis dinasti Umayyah. Fungsi perpustakaan untuk memperkuat peradaban Islam yang bermoral tinggi, tak lagi menjadi tujuan dasar dari banyaknya koleksi buku-buku di kota maksiat ‘city of satanic Bagdad’.

Penghancuran kota Bagdad, dilakukan para invasionis buta huruf dari pasukan dinasti Jengkhis Khan. Penghancuran ini dimulai dengan menghancurkan apa yang disenangi para malaikat yakni menghancurkan perpustakaan, melarung buku-buku ke sungai dan menjadikan buku-buku sebagai bahan pemicu api untuk menghanguskan kota. Kota yang telah disukai para malaikat, merupakan juga ‘home sweet home for sweet fairy’ (rumah yang manis untuk peri yang manis). Jika kota telah ditinggalkan para malaikat, maka peri manis juga tak sudi datang. Saat itu pula para organisatoris dan politikus setan akan mengambil alih manajemen kota dan seluruh isinya.

Entah bagaimana nasib kematian para penghuni kota Bagdad yang terbantai oleh pasukan moghul (Mongolia)? Apakah di keabadian kehidupan kedua mereka sempat dibangunkan oleh para peri/bidadari yang manis atau malah dijemput seringai horor para setan dari dimensi kegelapan? Tak ada validasi cerita tentang nasib orang-orang yang terbantai bersama robekan buku-buku, sebab setan tak akan bersusah payah membukukan penderitaan tersebut. Jika para setan memiliki perpustakaan untuk kalangan sendiri, maka malaikat tak sudi datang membaca sadisme dan masokisme yang ditulis dengan tinta darah bernanah di atas lembaran-lembaran kertas dari kulit-kulit manusia yang dikeringkan.

Kota New York, Los Angelos (Kota ‘Hilangnya Para Malaikat’/’lost angels’), Washington DC atau kota mana saja yang berisi banyak kaum kafir akan selamat dari kutukan, bila mereka tetap memiliki perpustakaan. Doa generik para malaikat pada sebuah kota, akan terus bersambung bila manusia tak menghancurkan lebih dulu suatu perpustakaan. Kota akan tetap selamat bila manusia yang cerdas dan yang tercerahkan tetap berusaha menjaga perpustakan sebagi ‘home sweet home’ bagi biblioholik.

SURAT BALASAN CINTA DARI PENGHUNI SURGA TERSORTIR OLEH DINAS INTELJEN
Setelah beratus-ratus kali mengirim surat kepada penghuni Sorga. Tak ada satu kata balasan yang terkirimkan ulang. Tak pernah ada kantor pos di kota Makassar yang mengaku pernah menerima surat balasan dari Sorga. Barangkali pihak DPRD pernah menerima salah satu balasan surat itu? Setelah beberapa kali demonstrasi dan memasuki ruang administrasi DPRD Tingkat I dan II, para ‘wakil rakyat-rakyatan’ juga tak pernah menerima balasan surat itu.

Tak adakah bidadari yang percaya pada wakil rakyat, hingga pada mereka pun bidadari tak sudi menitipkan sebuah surat? Mereka memang hanya menerima aspirasi mahasiswa, yang kemudian hanya disimpan di laci meja atau di buang ke pembakaran sampah. Pastilah setelah ratusan surat terkirim ke penghuni Sorga, tentu akhirnya ada satu carik balasan. Jika memang telah ada seorang bidadari yang pernah membalas surat itu, kemanakah ia terkirim?

Hingga pada suatu tanggal, bulan dan tahun yang tak lagi tercatat pada imajinasi, muncullah sebuah amplop yang merupakan balasan surat dari seorang bidadari. Di wajah depan amplop tak ada cap stempel dari kantor pos, cap stempel terlihat berasal dari kantor militer dan kantor dinas inteljen. Mengapa sampai surat itu terkirim melalui kantor militer dan dinas inteljen? Ada urusan apa sehingga aparat represif itu mengambil alih fungsi kantor pos?

Kepentingan apa yang diemban oleh aparat itu, sehingga surat dari bidadari harus diperiksa isinya? Padahal surat itu sama sekali tak menyimpan suatu sikap dan pernyataan yang akan mengganggu stabilitas negara. Tak ada rencana makar, kudeta, provokasi dan hal-hal yang dianggap berbahaya bagi keamanan dalam kata-kata manis surat bidadari. Surat itu sama sekali tak berindikasi subversive dan tak disusupi bom. Mengapa balasan dari surat cinta, harus ditanggapi dengan kecurigaan ‘satu mata kanan’ intelejen Dajjal?

TERTULIS PESAN DARI PENA TANPA TINTA DAN SKRIP TANPA HURUF
Tak ada satupun tanda baca yang terdapat di kertas. Tak ada huruf kecil dan tak ada huruf besar. Tak ada ‘alfa beta gamma’ atau ‘abc’. Tak ada ejaan yang disempurnakan dan tak ada urusan dengan tata bahasa, yang bermasalah dengan isi surat. Tak sedikit pun isi bertuliskan prosa liris, sajak melakonlis dan puisi romantis. Tak ada ilustrasi, bahkan tak ada apapun di surat itu. Surat itu hanya secarik lembaran kertas putih polos. Surat dari bidadari anonim itu, dikirim dari Sorga yang tak beralamat dan belum memiliki kode pos. Di atas kertas itu, hanya berisi awan putih dan sedikit kabut dari suatu sisi kiri suatu alur pegunungan surgawi.

Surat itu terkirim dari waktu yang tak berdetik dan ruang yang tak bertempat. Pesannya tertulis dari pena yang tak bertinta, tapi apakah secarik kertas putih yang tanpa perwakilan satupun alfabet masih bisa disebut sebagai suatu surat? Meski kertas itu tak bertuliskan apa saja untuk bisa dimengerti secara instan, namun adakalanya Ostaf harus sesekali mendaki gunung untuk melakukan pembacaan kertas putih. Pada awan, kabut putih dan selembaran pelangi, ada banyak tulisan yang bisa dibaca hingga akhirnya mata lelah dan pikiran tertidur tanpa kidung ‘nina-nina bobo’.

Salah satu cara membaca surat kosong dari bidadari yakni waktu tertidur antara batu, pohon, lumut, selimut kabut dan udara dingin. Hanya untuk surat ini, disarankan membaca sambil tiduran hingga tertidur pulas. Pas untuk selembar yang boleh dibaca dalam tidur sambil memeluk fantasi ‘bantal guling pohon’ dan ‘bantal batu’. Bila surat dari bidadari dibaca hingga dua lembar lebih, maka seorang pendaki tak akan bisa lagi bangun dari tidur untuk selamanya. Bila ia seorang pendaki yang banyak berbuat baik di horizon kaki langit, maka empat sosok bidadari akan bersuka-hati membuka kelopak matanya dengan masing-masing satu ciuman hangat berasap. Bila ia pendaki yang banyak berinvestasi jahat di horizon kaki gunung, seluruh setan akan berpesta untuk mengeroyok rohnya yang kotor.

BIDADARI ANONIM, PERAWAN SUCI DAN PLATONISME CINTA TAK BERPATUNG
Filsuf Plato, mendasarkan suatu hubungan cinta yang sulit dimengerti via cerita bersudut manapun juga. Dari dirinya terbentuklah sebuah citra cinta yang melampaui realitas romantis. Filsuf ini dinisbatkan sebagai cinta platonik, sebagai cinta yang tak menciptakan dosa syahwat. Cinta sang filsuf yang tak mempersekutukan kedekatan secara fisik sama sekali.

Ostafonik dan Platonik seperti cinta seorang pendaki pada gunung. Pendaki tak perlu memiliki apapun yang berada di gunung sebagai tanda serah terima persyaratan cinta antara pihak pertama dan kedua. Betapa pun indahnya pegunungan saat kabut turun perlahan, namun tak pernah bisa segenggam kabut puncak gunung di bawa serta turun menuju kaki gunung. Begitupun cinta, harus seperti kabut puncak gunung yang harus berada di tempatnya yang alami, tak terusik oleh tangan–tangan pencintanya.

Surat cinta kepada bidadari bukanlah romantisme perwakilan cinta platonik dan tak ada hubungan dengan filsafat Platonisme/Neo-Platonisme. Tak ada dokumentasi filsafat yang pernah menyebutkan bahwa Plato pernah menyebutkan tentang adanya bidadari. Di masa kefilsafatannya, memang ada makhluk fantasi yang disebut sebagai dewi. Dewi digambarkan memiliki kecantikan luar biasa dan memiliki kekuatan supra-natural melebihi manusia.

Kecantikan para dewi, bisa dilihat dari warisan patung-patung Yunani yang berbentuk patung semi-porno yang mengumbar ornamen dan relief kecantikan tubuh berseni vulgar. Plato merupakan ‘filsuf mati rasa’ terhadap fantasi kecantikan dewi-dewi dan tak percaya keberadaan realistik dari makluk rekaan para seniman dan para pematung. Kefilsafatannya tak pernah menyinggung secara serius pada dewi-dewi cantik penggoncang iman para lelaki sundal dan filsuf buaya darat.

Bidadari adalah suatu makhluk yang berada di luar batas imajinasi manusia (beyond imagination boundary) dan tak sampai tersentuh pada pikiran terdalam suatu filsafat manapun juga. Memang di jaman Plato sudah dikenal makhluk cantik yang disebut sebagai dewi, tapi dewi sangat berbeda dengan bidadari. Dewi-dewi mewakili nafsu-nafsu badaniah dalam fantasi seksual atlet olympiade purba maupun dewa Yunani, yang disebarkan oleh kaum sofis ‘oral-sexuality’ dan kaum filsuf ‘de-morale sexuality’.

Memang ada dewi-dewi yang dilukiskan sebagai perawan yang suci, tapi hanya tersisa beberapa sosok saja kurang dari lima jari kiri. Salah seorang dari perawan suci ini kemudian di’copy paste’ menjadi sosok ‘Mary The Virgin’ atau ‘Perawan suci Maria’ dalam bentuk patung atau gambar. Ada juga yang menyatakan patung ‘Mary The Virgin’, masih merupakan sosok dewi Venus saat masih belum terlibat ‘dugem’ dan ‘clubbing’ di gunung Olympus, sehingga masih suci dari jamahan liar dewa-dewa.

TRAGEDI YUNANI ‘MINUS MORALITAS SEKSUAL’ DEWI VENUS
Beberapa sosok dewi yang tetap suci ini disebabkan karena mereka tak tercatat keterlibatannya dalam acara ‘Goddess Night’ sehingga tak di-‘booking’ oleh ‘om-om dewa binal’ untuk pergaulan bebas dewa-dewi di gunung Olympus. Acara gaul bebas para dewa-dewi Olympus yang tak bermoral ini, tak dimasukkan dalam salah satu Mitologi Yunani dan tak dianggap sebagai bagian ‘Tragedi Yunani’. Itu pula sebabnya, dalam peradaban Barat yang amoral, kehilangan kesucian pra-nikah sama sekali tak dianggap tragedi kemanusiaan. Gadis-gadis Barat malah memiliki ritual ‘senior high girls’ yang disebut ‘de-hymen’ yakni menjebol keperawanan di usia ‘sweet seventeen’ dan setelah itu ‘easy sex easy abortion’. Abortus akibat seks bebas atau hubungan seks pra nikah, lalu di beri keluasaan sikap permisif oleh aturan negara dan sejumlah aliran Kristen sempalan.

Adanya anomali terhadap beberapa sosok dewi yang menjaga kesuciannya dari efek gaul bebas ini, menggambarkan bahwa hanya ada sedikit kesadaran untuk menempatkan perempuan pada martabat keluhuran dan melulu dianggap sebagai budak seks. Para filsuf dan pemikir Yunani umumnya masih menempatkan perempuan sebagai strata terbawah disubordinasi lelaki. Peradaban Yunani yang tinggi, sangat merendahkan martabat para perempuan. Pemujaan pada perempuan terbatas pada vulgarisasi keindahan arsitektur tubuh seperti yang terlihat pada patung dewi Venus.

Peradaban Barat –yang berakar serabut dari pohon intelektual filsafat Yunani–, sampai sekarang masih menempatkan perempuan sebagai wujud dewi Neo-Venus di panggung cat walk, film Hollywood, majalah porno Play Boy/Pent House dan situs-situs porno yang dilegalkan oleh negara atas nama kapitalisme kebebasan ekspresi seni maupun moghulisme kebebasan pers. Sosok dewi Venus dan Neo-Venus, sudah dipenuhi jejalan noda-noda tapak sepuluh jari ribuan tangan haram laki-laki jadah.

Berbeda halnya dengan semua bidadari, yang sama sekali belum tersentuh oleh seorang pun manusia, malaikat, jin, demon, iblis Lucifer 666, Dajjal dan alien. Bidadari yang tak tersentuh kulitnya, pastilah tetap bebas dari jejak sepuluh sidik jari lelaki mana saja atau makhluk apapun memiliki gelantungan ornamen biologis yang berkelamin laki-laki. Bidadari bahkan belum pernah masuk dalam impian lelaki manapun dalam tajuk mimpi basah. Dalam mimpi pun, bidadari tak akan pernah ternodai oleh masa-masa puber pertama dan kedua.

Iklan